Arsip Buddhism

Pemberitahuan

Posted by bhalanetra pada Desember 28, 2010

Blog ini masih dalam tahap perbaikan. Saya masih belum menambahkan tulisan lain untuk saat ini karena ada urusan lain.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Gotamabuddha Bukan Nabi Islam

Posted by bhalanetra pada Agustus 31, 2012

Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca artikel di beberapa blog yang mengatakan bahwa Siddhartha Gautama sebenarnya adalah Nabi Zulkifli a.s. dimana artikel tersebut banyak terinspirasi dari tulisan Abu’l Kalam Azad. Berikut adalah beberapa sumber dimana artikel tersebut saya temukan: klik disini.

Sebagai orang yang pernah belajar tentang agama Buddha saya merasa bahwa tulisan tersebut sangat banyak cacatnya sehingga layak untuk dikritisi. Hal ini juga saya lakukan sebagai bentuk penghormatan saya kepada umat Buddha yang mungkin tersinggung ketika panutannya disamakan dengan junjungan umat agama lain.

Pembuktian Akan Ketidakpahaman Penulis

Penulis dari artikel nampaknya kurang memahami mengenai bagaimana ajaran Buddha terutama tentang perjalanan hidup dari Siddhartha itu sendiri.

Siddhartha Gautama merupakan putera kepada Raja Suddhodana dan Permaisuri Maha Maya. Raja Suddhodana dari keturunan suku kaum Sakyas, dari keluarga kesatrian dan memerintah Sakyas berdekatan negeri Nepal.

Dari tulisan ini bisa diketahui bahwa penulis telah salah memahami dan mengira bahwa Siddhartha adalah anak seorang raja dan permaisuri. Sebenarnya Siddhartha bukanlah anak seorang pemimpin kerajaan seperti banyak tulisan di Internet, namun hanyalah anak dari kepala suku yang terpilih, hanya saja memang gelar dari kepala suku tersebut adalah “raja” yang maknanya sangat berbeda dengan istilah raja dalam Bahasa Indonesia.

Beberapa daerah di India pada saat itu adalah kerajaan-kerajaan dan Sakya sendiri berada di bawah kekuasaan Raja Kosala yang berkuasa sampai ke daerah selatan.

Asita mendapati terdapat 32 tanda utama dan 80 tanda kecil menunjukkan Bodhisatta bakal menjadi Manusia Agung dan Guru Agung kepada manusia dan dewa-dewa (i.e. Jin dan Malaikat, kelemahan umat Hindu dan Buddha ialah tidak dapat bedakan antara jin dan malaikat yang keduanya dipanggil dewa-dewa).

Kalimat ini sedikit bernada frontal, saya pikir lebih baik menghargai konsep agama lain dan mengatakan bahwa itu benar-benar adalah konsep yang berbeda daripada mengatakan bahwa konsep agama lain sebenarnya sama namun disalahartikan, karena hal seperti itu kesannya sangat egois dan memaksakan diri.

Perlu diketahui bahwa konsep dewa sendiri dalam Hindu dan Buddha sedikit berbeda, dimana dalam Hindu dewa kedudukannya dianggap lebih tinggi dari manusia sedangkan dalam konsep Buddha menjadi manusia lebih mulia daripada menjadi dewa karena jalan untuk mencapai kebuddhaan dari manusia lebih mudah daripada dewa.
Bantahan Akan Persamaan Siddhartha dan Zulkifli
1. Nama Yang Berbeda

Sudah jelas bahwa dalam ajaran Islam nabi yang dimaksud bernama Basyar, yang kemudian dipanggil Zulkifli yang artinya sanggup, karena beliau sanggup menerima persyaratan dari raja sebelumnya untuk berpuasa di siang hari dan beribadah di malam hari.

Sedangkan dalam literatur Buddha maupun Hindu telah jelas nama dari Sang Buddha adalah Siddhartha, nama yang sangat jauh berbeda dengan Basyar atau Zulkifli, sehingga kemungkinan besar bukanlah orang yang sama. Bahkan setahu saya bahasa Sanskerta yang digunakan oleh Siddhartha tidak mengenal fonem “Z”
2. Hidup Pada Zaman Yang Berbeda

Berdasarkan berbagai sumber yang ada sebagian besar muslim sepakat bahwa Nabi Zulkifli hidup pada tahun 1500-1425 SM yang artinya beliau hidup lebih dulu dibandingkan dengan Siddhartha yang kebanyakan sumber-sumbernya mengatakan bahwa beliau hidup pada sekitar tahun 623 SM
3. Siddhartha Meninggalkan Pemerintahan, Nabi Zulkifli Menjadi Raja

Seperti yang sudah diketahui bahwa Siddhartha adalah anak kepala suku yang sebelumnya hidup mewah kemudian memilih untuk meninggalkan pemerintahan itu agar bisa menjadi tahu bagaimana cara mengakhiri penderitaan, sebaliknya Nabi Zulkifli justru sebelumnya adalah warga biasa yang kemudian dianggap menjadi Raja. Keduanya jelas mengalami perjalanan hidup yang berbeda bahkan bisa dibilang bertolak belakang.
4. Makna Buddha Tidak Sama Dengan Nabi

Pada artikel tersebut terdapat tulisan yang mengatakan bahwa nabi memiliki makna yang sama dengan buddha, berikut adalah kutipannya:

Makna “nabi” dalam bahasa Arab berasal dari kata naba yang berarti “dari tempat yang tinggi”; karena itu orang ‘yang di tempat tinggi’ dapat melihat tempat yang jauh. Nabi dalam bahasa Arab sinonim dengan kata Buddha sebagaimana yang dipahami oleh para penganut Buddha. Sinonimnya pengertian ini dapat diringkaskan sebagai “Seorang yang diberi petunjuk oleh Tuhan sehingga mendapat kebijaksanaan yang tinggi menggunung”.

Saya katakan tidak sama. Dalam ajaran Islam, nabi adalah istilah bagi mereka yang mendapatkan wahyu dari Allah untuk wajib disampaikan pada orang lain, sedangkan kata buddha lebih bermakna sebagai orang yang dicerahkan.

Perbedaan yang paling jelas antara nabi dan buddha adalah orang yang menjadi nabi dan rasul adalah atas kehendak Allah yang kodratnya telah ditentukan, sedangkan dalam ajaran Buddha siapa pun bisa menjadi seorang buddha, tidak terbatas dari kelahiran orang tersebut dan waktu dia hidup.

Dalam ajaran Buddha seorang penjahat sekalipun ketika dia telah tercerahkan maka dia bisa menjadi buddha sekalipun ia hidup di zaman modern seperti sekarang. Sedangkan dalam Islam terdapat 4 sifat yang mustahil dilakukan oleh seorang nabi (khizib, khianat, kitman, dan jahlun) sehingga seorang yang dulunya penjahat bisa dipastikan tidak mungkin seorang nabi atau rasul, dan jumlah nabi dalam Islam terbatas oleh waktu dimana Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir sehingga tidak mungkin ada nabi di zaman modern seperti saat ini.
5. Siddhartha Tidak Beribadah Pada Siapapun

Sang Buddha bukanlah orang yang bisa dikatakan sebagai penyembah tuhan. Jangankan menyembah tuhan, bahkan membicarakan tuhan pun beliau sangat jarang. Fokus utama ajaran Buddha adalah tentang bagaimana manusia mengakhiri penderitaan dan mencapai pencerahan melalui jalan Dhamma, dimana ajaran Dhamma ini bisa dibagi menjadi 3 pokok utama, yaitu perbanyak perbuatan baik, kurangi perbuatan jahat, dan mendamaikan diri sendiri melalui meditasi.

Pokok ajaran Buddha tidak berbicara tentang siapa tuhan, bagaimana sifat tuhan, apalagi bagaimana cara menyembahnya. Ajaran Buddha lebih condong ke arah filsafat dan humanisme. Sangat jauh berbeda dengan ajaran Islam yang mengutamakan tauhid dan penyembahan kepada Allah.

Ketika Siddhartha jarang berbicara mengenai tuhan, bagaimana mungkin dia melakukan apa yang dilakukan oleh Nabi Zulkifli yaitu ibadah di malam hari? Seperti apa ibadah yang dilakukan oleh Siddhartha? Jelas ini nampak sangat tidak masuk akal.
6. Kata “Tin” Bukan Bermakna Pohon Bodhi

Penulis dari artikel tersebut menggunakan cocoklogi dengan mengaitkan Surah At Thiin ayat 1-6, pendapat dari Dr. Alexander Berzin, dan imajinasinya sendiri. Untuk itu mari kita lihat terlebih dahulu isi ayat Quran yang dipakai sebagai acuan:

وَالتّينِ وَالزَّيتونِ وَطورِ سينينَ وَهٰذَا البَلَدِ الأَمينِ لَقَد خَلَقنَا الإِنسٰنَ فى أَحسَنِ تَقويمٍ ثُمَّ رَدَدنٰهُ أَسفَلَ سٰفِلينَ إِلَّا الَّذينَ ءامَنوا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُم أَجرٌ غَيرُ مَمنونٍ

Wattiini wazzaituun, wathuuri siiniin, wahadzaal baladil amiin, laqad khalaqnaa-insaana fii ahsani taqwiim, tsumma radadnaahu asfala saafiliin, ilaal-ladziina aamanuu wa’amiluush-shaalihaati falahum ajrun ghairu mamnuun.

Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.

Dr. Alexander berpendapat bahwa buah Zaitun melambangkan Jerusalem, Isa a.s. (Jesus, Kristian), Bukit Sinai melambangkan Musa a.s. dan Yahudi dan Kota Mekah pula menunjukkan Islam dan Muhammad SAW. Penulis kemudian berimajinasi dengan mengatakan bahwa “tin” bermakna Pohon Bodhi. Masuk akal kah?
Kenapa Al-Qasimi dan Prof. Hamidullah bisa beranggapan bahwa pohon tin bisa disamakan dengan pohon bodhi, dari mana dapat logika seperti itu, sedangkan jelas-jelas kedua pohon tidak memiliki kemiripan yang berarti. Walaupun kedua tanaman berasal dari genus yang sama namun nampak jelas bahwa pohon tin (Ficus carica) dan Pohon Bodhi (Ficus religiosa Linn) memiliki ukuran, buah, dan bentuk daun yang berbeda.

Kenapa ketika Dr. Alexander menyebutkan tentang Musa, Isa, dan Muhammad, kemudian yang lain membayangkan Nabi Zulkifli? Kenapa tidak Ibrahim yang lebih populer? Jelas ini menunjukkan bagaimana penulis terlalu memaksakan cocokloginya.
7. Dhul-Kifli Bukan Bermakna “Berasal Dari Kapilavastu”

Seperti yang saya tulis sebelumnya bahwa Zulkifli bermakna “sanggup” bukan bermakna berasal dari Kifli, sekalipun demikian rasanya sangat jauh kata Kifli diartikan sebagai Kapilavastu, dan sekalipun Kifli memang bermakna Kapilavastu maka belum tentu hal tersebut merujuk pada Siddhartha.

Perlu dipertanyakan sejak kapan nama Kapilavastu tersebut eksis, apakah memang ada sejak zaman Siddhartha atau hanyalah sebuah distrik yang baru terbentuk, karena menurut literatur yang ada Siddhartha lahirnya di Taman Lumbini yang kemudian baru diperkirakan ada di antara distrik Kapilavastu (Nepal) dan Devadaha (India)
Kesimpulan

Kesimpulannya jelas, bahwa penulis terlalu memaksakan argumen dan menggunakan cocoklogi yang sangat lemah, dan mengabaikan faktor-faktor ketidakcocokan lain yang sangat kuat sehingga pendapat bahwa “Siddhartha Gautama adalah Nabi Zulkifli” tidak dapat dipercaya.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Menghancurkan Kesadaran

Posted by bhalanetra pada Agustus 4, 2010

Dengan munculnya keinginan (tanha), maka muncullah kemelekatan (upadana).
Jalan untuk melenyapkan kemelekatan (upadana) hanyalah Ariya Atthangika Magga, yaitu: pandangan benar, … konsentrasi benar.
Setelah siswa yang mulia mengerti hal ini …”
“Sungguh baik, avuso,” kata para bhikkhu dengan perasaan puas dan gembira setelah mendengarkan uraian Bhikkhu Sariputta. Kemudian mereka bertanya lagi: “Tetapi, sahabat adakah cara lain bagi siswa ariya berpandangan benar …. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
“Ada,” jawab Bhikkhu Sariputta.
“Sedapat mungkin seorang siswa ariya mengerti tentang keinginan untuk mengulangi lagi (tanha), sebab lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya. Melalui cara ini, ia berpandangan benar … Inilah keyakinan benar yang ia miliki.
Apakah keinginan (tanha), apakah yang melenyapkan tanha, apakah jalan untuk melenyapkan tanha?
Ada enam jenis tanha, yaitu:

1. Keinginan akan bentuk-bentuk (Rupa Tanha)
2. Keinginan akan suara (Sabda Tanha)
3. Keinginan akan aroma / bau (Gandha Tanha)
4. Keinginan akan rasa / kecapan (Rasa Tanha)
5. Keinginan akan sentuhan (photthabba Tanha)
6. Keinginan akan obyek-obyek pikiran (Dhamma Tanha)

Dengan timbulnya perasaan (vedana), maka timbullah keinginan (tanha). Jalan untuk melenyapkan tanha hanyalah Ariya Atthangika Magga, yaitu: pandangan benar, …, konsentrasi benar.
Setelah siswa yang mulia mengerti hal ini …”
“Sungguh baik, avuso,” kata para bhikkhu dengan perasaan puas dan gembira setelah mendengarkan uraian Bhikkhu Sariputta. Kemudian mereka bertanya lagi: “Avuso, tetapi adakah cara lain di mana siswa yang mulia berpandangan benar … Inilah keyakinan benar yang harus ia miliki.”
“Ada,” jawab Bhikkhu Sariputta.
“Sedapat mungkin seorang siswa ariya mengerti tentang perasaan (vedana), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya. Melalui cara ini, ia berpandangan benar …. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.
Apakah perasaan (vedana), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya?
Ada enam macam yang mengakibatkan timbulnya perasaan yaitu:

1. Perasaan yang timbul karena mata melihat (Cakkhu samphasajja vedana)
2. Perasaan yang timbul karena telinga mendengar (sota samphasajja vedana)
3. Perasaan yang timbul karena hidung mencium (Ghana samphasajja vedana)
4. Perasaan yang timbul karena lidah mengecap (Jivha samphasajja vedana)
5. Perasaan yang timbul karena jasmani menyentuh (Kayasamphasajja vedana)
6. Perasaan yang timbul karena pikiran (Manosamphasajja vedana)

Dengan timbulnya sentuhan (phassa), maka timbullah perasaan (vedana). Dengan lenyapnya kesan-kesan (phassa), maka lenyaplah perasaan (vedana). Jalan untuk melenyapkan perasaan hanyalah Ariya Atthangika Magga, yaitu: pandangan benar, …, konsentrasi benar.
Setelah siswa yang mulia mengerti hal ini …”
“Sungguh baik, avuso,” kata para bhikkhu dengan perasaan puas dan gembira setelah mendengarkan uraian Bhikkhu Sariputta. Kemudian mereka bertanya lagi: “Tetapi, sahabat adakah cara lain dimana siswa ariya berpandangan benar …. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
“Ada,” jawab Bhikkhu Sariputta.
“Sedapat mungkin seorang siswa ariya mengerti tentang kesan-kesan (phasa), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya. Melalui cara ini, ia berpandangan benar …. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.
Ada enam hal yang menyebabkan sentuhan (phassa), yaitu:

1. Mata melihat (cakkhusamphassa)
2. Telinga mendengar (Sotasamphassa)
3. Hidung mencium (Ghanasamphassa)
4. Lidah mengecap (Jivhasamphassa)
5. Jasmani menyentuh (Kayasamphassa)
6. Pikiran berpikir (Manosamphassa)

Setelah siswa yang mulia mengerti hal ini …”
“Sungguh baik, avuso,” kata para bhikkhu dengan perasaan puas dan gembira setelah mendengarkan uraian Bhikkhu Sariputta. Kemudian mereka bertanya lagi: “Avuso, tetapi adakah cara lain bagi siswa ariya berpandangan benar …. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
“Ada,” jawab Bhikkhu Sariputta.
“Sedapat mungkin seorang siswa ariya mengerti tentang enam landasan indera (salayatana), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya. Melalui cara ini, ia berpandangan benar …. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.
Apakah enam landasan indera (salayatana), sumbernya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya? Ada enam landasan yang mengakibatkan timbulnya enam landasan indera, yaitu:

1. Landasan mata (Cakkhayatana)
2. Landasan telinga (Sotayatana)
3. Landasan mencium (Ghanayatana)
4. Landasan lidah (Jivhayatana)
5. Landasan menyentuh (Kayayatana)
6. Landasan pikiran (Manayatana)

Dengan timbulnya jasmani dan batin (nama rupa), maka timbullah enam landasan indera (salayatana). Dengan lenyapnya jasmani dan batin, maka lenyaplah enam landasan indera (salayatana). Jalan untuk melenyapkan enam landasan indera hanyalah Ariya Atthangika Magga, yaitu : pandangan benar,…, konsentrasi benar.
Setelah siswa yang mulia mengerti hal ini…
“Sungguh baik, avuso,” kata para bhikkhu dengan perasan puas dan gembira setelah mendengarkan uraian Bhikkhu Sariputta. Kemudian mereka bertanya lagi: “Avuso, tetapi adakah cara lain bagi siswa ariya berpandangan benar …. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
“Ada,” jawab Bhikkhu Sariputta.
“Sedapat mungkin seorang siswa ariya mengerti tentang jasmani dan batin (nama rupa), sumbernya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya. Melalui cara ini, ia berpandangan benar …. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.
Apakah jasmani dan batin (nama rupa), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya? Perasaan (vedana), pencerapan (sanna), kehendak (cetana), sentuhan (phassa) dan perhatian (manasikara), inilah yang dinamakan batin (nama).
Empat unsur (catu dhatu) dan bentuk yang berasal dari empat unsur utama (mahabhuta rupa) inilah yang dinamakan batin (rupa).
Dengan timbulnya kesadaran (vinnana), maka timbullah jasmani dan batin (nama rupa). Dengan lenyapnya kesadaran (vinnana), maka lenyaplah jasmani dan batin. Jalan untuk melenyapkan jasmani dan batin hanyalah Ariya Atthangika Magga, yaitu: pandangan benar … konsentrasi benar.
Setelah siswa yang mulia mengerti hal ini …”
“Sungguh baik, avuso,” kata para bhikkhu dengan perasaan puas dan gembira setelah mendengarkan uraian Bhikkhu Sariputta. Kemudian mereka bertanya lagi: “Avuso, tetapi adakah cara lain bagi siswa ariya berpandangan benar …. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
“Ada,” jawab Bhikkhu Sariputta.
“Sedapat mungkin seorang siswa ariya mengerti tentang kesadaran (vinnana), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya. Melalui cara ini, ia adalah berpandangan benar … Inilah keyakinan benar yang ia miliki.
Apakah kesadaran (vinnana), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya? Ada enam macam yang mengakibatkan timbulnya kesadaran, yaitu:

1. Kesadaran yang timbul karena mata melihat (cakkhu vinnana).
2. Kesadaran yang timbul karena telinga mendengar (sota vinana).
3. Kesadaran yang timbul karena hidung mencium (ghana vinana).
4. Kesadaran yang timbul karena lidah mengecap (jivha vinana).
5. Kesadaran yang timbul karena jasmani menyentuh (kaya vinnana).
6. Kesadaran yang timbul karena pikiran berpikir (mano vinnana).

Dengan timbulnya bentuk-bentuk kamma (sankhara), maka timbullah kesadaran (vinnana). Dengan lenyapnya bentuk-bentuk kamma (sankhara), maka lenyaplah kesadaran (vinnana). Jalan untuk melenyapkan kesadaran hanyalah Ariya Atthangika Magga, yaitu: pandangan benar, … dan konsentrasi benar.
Setelah siswa yang mulia mengerti hal ini …”
“Sungguh baik, avuso,” kata para bhikkhu dengan perasaan puas dan gembira setelah mendengar uraian Bhikkhu Sariputta. Kemudian mereka bertanya lagi: “Avuso, tetapi adakah cara lain bagi siswa ariya berpandangan benar …. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
“Ada,” jawab Bhikkhu Sariputta.
“Sedapat mungkin seorang siswa yang mulia mengerti tentang bentuk-bentuk kamma (sankhara), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya. Melalui cara ini, ia berpandangan benar …. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.
Apakah bentuk-bentuk kamma (sankhara), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya?
Ada tiga macam yang mengakibatkan timbulnya bentuk-bentuk kamma (sankhara), yaitu :

1. Pembentukan badan jasmani (kaya sankhara)
2. Pembentukan kata-kata (vaci sankhara)
3. Pembentukan pikiran (citta sankhara)

Dengan timbulnya kegelapan batin (avijja), maka timbullah bentuk-bentuk kamma (sankhara). Dengan lenyapnya kegelapan batin (avijja), maka lenyaplah bentuk-bentuk kamma (sankhara). Jalan untuk melenyapkan bentuk-bentuk kamma hanyalah Ariya Atthangika Magga, yaitu: pandangan benar, … dan konsentrasi benar.
Setelah siswa yang mulia mengerti hal ini … ”
“Sungguh baik, avuso,” kata para bhikkhu dengan perasaan puas dan gembira setelah mendengarkan uraian Bhikkhu Sariputta. Kemudian mereka bertanya lagi: “Tetapi, sahabat adakah cara lain di mana siswa ariya berpandangan benar …. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
“Ada,” jawab Bhikkhu Sariputta.
“Sedapat mungkin seorang siswa ariya mengerti tentang kegelapan batin (avijja) sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya. Melalui cara ini, ia berpandangan benar …. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.
Apakah kegelapan batin (avijja), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya?
Tidak mengetahui adanya penderitaan (dukkha), sebab penderitaan, lenyapnya penderitaan, jalan untuk melenyapkan penderitaan. Dengan timbulnya noda (asava), maka timbullah kegelapan batin (avijja). Dengan lenyapnya noda (asava), maka lenyaplah kegelapan batin (avijja). Jalan untuk melenyapkan kegelapan batin hanyalah Ariya Atthangika Magga, yaitu: pandangan benar … dan konsentrasi benar.
Setelah siswa yang mulia mengerti hal ini…”
“Sungguh baik, avuso,” kata para bhikkhu dengan perasaan puas dan gembira setelah mendengarkan uraian Bhikkhu Sariputta. Kemudian mereka bertanya lagi: “Tetapi, sahabat adakah cara lain bagi siswa ariya berpandangan benar … Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
“Ada,” jawab Bhikkhu Sariputta.
“Sedapat mungkin seorang siswa ariya mengerti tentang kekotoran batin (asava), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya. Melalui cara ini, ia berpandangan benar … Inilah keyakinan benar yang ia miliki.
Apakah kekotoran batin (asava), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkan kekotoran batin (asava) ?
Ada 3 (tiga) jenis kekotoran batin (asava), yaitu:

1. Noda dari keinginan memuaskan nafsu indera (Kamasava).
2. Noda dari keinginan untuk menjadi (Bhavasava).
3. Noda dari ketidaktahuan (Avijjasava).

Dengan timbulnya kegelapan batin (avijja), maka timbullah kekotoran batin (asava). Dengan lenyapnya kegelapan batin (avijja), maka lenyaplah kekotoran batin (asava). Jalan untuk melenyapkan kekotoran batin hanyalah Ariya Atthangika Magga, yaitu: pandangan benar, … dan konsentrasi benar.
Setelah siswa ariya mengerti sepenuhnya tentang kekotoran batin, kekotoran batin serta akarnya, dia telah melenyapkan sepenuhnya sebab utama dari kecenderungan nafsu-nafsu, menolak, membasmi pandangan dan konsep tentang diri (atta). Dengan melenyapkan kegelapan batin (avijja) dan menumbuhkan pengetahuan benar (vijja), maka di sinilah ia mengakhiri penderitaan (dukkha nirodha). Melalui cara ini, seorang siswa ariya berpandangan benar, berpandangan lurus, memiliki keyakinan yang sempurna pada Dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”

Posted in Pikiran | Leave a Comment »

Kelahiran Kembali (III): Proses Kelahiran

Posted by bhalanetra pada November 13, 2009

Berdasarkan pada uraian tentang proses berpikir dan proses kematian maka tidak sulit untuk mengikuti atau mempelajari tentang proses kelahiran kembali, karena hanya merupakan kelanjutan dari proses kematian. Proses kelahiran kembali hanya berlangsung lima tahap dalam batin seseorang sebagai berikut :

Patisandhi Vinanna
Bhavanga Citta
Manodvaravajjana
Javana
Bhavanga Citta

1. Patisandhi Vinanna
Adalah kesadaran kelahiran kembali, dalam uraian tentang proses kematian, Patisandhi vinanna disebutkan pada urutan proses bagian akhir. Penyebutan ini bukan berarti bahwa patisandhi vinanna terjadi pada pikiran dari orang yang akan meninggal dunia itu, tetapi penyebutan patisandhi vinanna dalam uraian proses kematian adalah untuk menunjukan proses sebab akibat yang berkesinambungan dalam proses kematian dan kelak yang akan terlahir kembali.
Patisandhi vinanna hanya merupakan akibat dari maranasanna janaka citta. Patisandhi vinanna hanya muncul atau ada pada batin atau pikiran dari makhluk yang baru terlahir kembali. Jika makhluk yang terlahir kembali sebagai manusia maka patisandhi vinanna muncul pada ovum yang baru dibuahi oleh sperma dalam kandungan atau tabung ( untuk bayi tabung ). Bersamaan dengan adanya patisandhi vinanna terjadi pula kelompok sepuluh dari jasmani ( kaya dasaka ), kelompok sepuluh dari kelamin ( bhava dasaka ) dan kelompok sepuluh dari kedudukan kesadaran ( vatthu dasaka ).
Kaya dasaka terdiri dari :
elemen
elemen cair
elemen panas
elemen gas
wana
bau
ras
sari makanan
inderiya kehidupan
tubuh

Bhava dasaka terdiri dari 1 sampai 9 seperti pada kaya dasaka dan ke 10 adalah kelamin. Sedangkan vatthu dasaka terdiri dari 1 sampai 9 seperti kaya dasaka dan ke 10 adalah kedudukan kesadaran.
Menurut pandangan Buddhis, kelamin ditentukan pada saat pembuahan dan dihasilkan oleh karma. Walaupun kelamin telah ditentukan namun kelamin belum berkembang pada saat pembuahan tetapi potensi kelamin adalah laten.
Jadi dengan ada patisandhi vinanna maka kombinasi jasmani – batin baru mulai berkembang dalam kandungan. Sperma ovum orang tua menyiapkan materi sedangkan patisandhi vinanna menyiapkan batin. Patisandhi vinanna yang berhubungan dengan kehidupan yang lalu dan kehidupan yang baru. Proses kesadaran tidak pernah berhenti, kesadaran terakhir dari makhluk yang meninggal berproses terus dan menghasilkan kesadaran lain tetapi bukan dalam tubuh yang sama. Kesadaran lain itu adalah patisandhi vinanna yang hanya bergetar sesaat lalu lenyap dan langsung diikuti oleh bhavanga citta.

Dinyatakan pula bahwa ada empat macam cara kelahiran dari makhluk – makhluk yaitu :
Jalabuja yaitu makhluk yang lahir melalui kandungan seperti manusia dan binatang binatang tertentu.
Andaja yaitu makhluk yang lahir melalui telur seperti unggas, ular, buaya dan binatang lain.
Samsedaja yaitu makhluk yang lahir di tempat yang lembab atau bukan cara jalabuja atau andaja seperti binatang tingkat rendah
Opapatika yaitu makhluk yang lahir secara spontan. Biasanya makhluk yang lahir secara spontan adalah makhluk yang tak terlihat oleh mata manusia biasa. Contohnya : para dewa, peta atau setan, asura dan makhluk di alam brahma.

2. Bhavanga Citta
Setelah Patisandhi vinanna lenyap, bhavanga citta muncul dan bergetar selama 16 saat. Pada tahap embrio maka ia masih merupakan bagian tubuh ibu, itu sebabnya bhavanga citta berproses dengan lancar tanpa ada gangguan.

3. Manodvaravajjana
Telah disebutkan diatasbahwa bhavanga citta hanya berlangsung selama 16 saat dan lenyap, kemudian muncul manodvaravajjana. Bhavanga citta memberikan jalan untuk proses berpikir berlangsung berdasarkan pada keinginan yang muncul dalam batin dari embrio karena kehidupan barunya.

4. Javana
Setelah manodvaravajjana lenyap, javana atau impuls kesadaran muncul. Javana melangsungkan kesadaran yang terjadi pada manodvaravajjana yaitu keinginan pada kehidupan baru. Javana mengembangkan keinginan makhluk baru ( bhavana nikanti javana ), javana bergetar selama 7 saat lenyap.

5. Bhavanga citta
Ketika javana lenyap, bhavanga citta muncul dan bergetar. Bhavanga citta bergetar terus hingga ada sesuatu yang menghentikannya. Pada waktu bayi lahir, ia mulai berhubungan dengan dunia luar maka proses berpikir normal mulai berfungsi.

 

Posted in Pikiran | Leave a Comment »

Kelahiran Kembali (II): Proses Kematian

Posted by bhalanetra pada November 13, 2009

Setelah kita mempelajari tentang proses berpikir, maka kita akan dapat dengan mudah mempelajari tentang cara kerja proses pikiran pada saat kematian. Dengan mempelajari dan mengerti tentang proses pikiran pada saat kematian, maka kita akan dapat memperhatikan apa yang berlangsung setelah kematian karena hanya dengan cara ini kita dapat mengerti tentang kelahiran kembali.

Pengaruh Kelahiran Pada Jasmani

Manusia terdiri dari kombinasi antara jasmani dan batin ( nama rupa ). Hubungan antara jasmani dan batin bagaikan hubungan erat antara bunga dan bau. Jasmani sebagai bunga dan batin sebagai bau, sedangkan kematian hanya merupakan pemisahan anatar dua faktor ini. Bilamana orang berada pada saat saat menjelang kematian, jasmani dan batinnya lemah, mungkin seseorang kuat selalu tetapi pada saat menjelang kematian ia menjadi lemah. Hal ini terjadi karena pada waktu kesadaran bergetar sampai 17 getaran dan pada saat getaran itu akan selesai tak ada fungsi baru dari jasmani yang terjadi. Hal ini bagaikan kipas angin listrik yang arus listriknya diputuskan sehingga tidak ada tenaga lagi. Jika kombinasi jasmani dan batin terpisah, jasmani dan batin tidak lenyap. Jasmani akan mulai berproses menjadi lapuk, jasmani atau materi tak dapat lenyap tetapi akan terurai menjadi zat padat, cair dan gas. Elemen ini tak akan lenyap tetapi bentuk elemen elemen itu saja yang berubah.

Pengaruh Kematian Pada Batin
Apakah yang terjadi pada batin setelah meninggal ? batin tidak berbeda dengan jasmani yang tetap berproses, proses perubahan batin dari satu keadaan ke keadaan yang lain berlangsung terus dengan cepat sehingga bagi orang yang tak mengerti menganggap batin ini adalah tetap keka. Kematian tidak menghentikan proses batin.

Proses pikiran tidak berhenti pada saat kematian sebab pada saat terakhir sebelum saat kematian yang disebut maranasanna javana citta walaupun lemah dan tak dapat membuat buah pikiran baru namun memiliki suatu potensi besar untuk mengetahui atau melihat salah satu dari tiga objek pikiran yang masuk dalam pikiran dari orang yang segera akan meninggal. Objek pikiran yang muncul ini tak dapat ditolak, munculnya salah satu dari tiga objek pikiran ini yang menyebabkan sebuah pikiran baru muncul. Pemunculan salah satu dari tiga objek sebagai tanda kematian ini bukan dihasilkan oleh kekuatan dari luar, tetapi hal ini terjadi berdasarkan pada perbuatan perbuatan ( karma ) orang tersebut selama hidupnya. Karma yang bekerja pada saat seperti ini disebut Janaka kamma. Kematian ini merupakan refleksi dari perbuatannya sendiri.

Proses Kematian

Menurut pandangan Buddhis, kematian terjadi karena salah satu dari empat hal yaitu :
Kammakkhaya atau habisnya kekuatan janaka kamma.
Ayukkhaya atau habisnya masa kehidupan.
Ubhayakkhaya atau habisnya janaka kamma dan masa kehidupan secara bersama sama.
Upacchedaka kamma atau munculnya kamma penghancur atau pemotong yang kuat sehingga walaupun janaka kamma dan masa kehidupan belum selesai, orang tersebut meninggal dengan cepat.

1. Kammakkhaya
Jika potensi dari janaka kamma atau karma yang mengatur tentang kelahiran telah habis, maka aktivitas organis jasmani yang memiliki daya hidup ( javitindriya ) mati walaupun batas usia kehidupan di alam tertentu itu belum habis. Hal ini biasanya terjadi pada makhluk makhluk yang lahir di alam menyedihkan ( apaya ), neraka, binatang, peta dan asura, tetapi hal ini terjadi juga di dalam alam alam lain.
2. Ayukkhaya
Habisnya masa kehidupan makhluk, Hal ini terjadi sesuai dengan batas usia kehidupan makhluk di masing masing alam.

3. Ubhayakkhaya
Bersamaan habisnya kekuatan janaka kamma dan batas usia kehidupan dari makhluk.

4. Upacchedaka kamma
Kematian seseorang terjadi karena ia telah melakukan perbuatan yang buruk sekali sehingga walaupun janaka kamma maupun usia kehidupannya belum selesai, Ia tiba tiba meninggal dunia sebagai akibat perbuatan buruk tersebut. Suatu kekuatan tertentu dapat menghentikan kendaraan yang sedang melaju, demikian pula karma yang kuat dapat melenyapkan potensi dari arus proses berpikir dan mengakibatkan seseorang meninggal.

Kammakkhaya, Ayukkhaya dan Ubhayakkhaya disebut sebagai “ meninggal pada waktunya ” ( kala marana ) sedangkan meninggal karena Upacchedaka kamma disebut “ meninggal bukan pada waktunya ” ( akal marana ). Untuk memperjelas keempat hal diatas tentang kematian, dimisalkan makhluk itu adalah lampu minyak, lampu akan padam karena empat hal yaitu jika minyak habis, sumbu habis, minyak dan sumbu sama sama habis atau karena ada angin kencang.

Uraian diatas tentang kematian secara umum, sedangkan kematian secara khusus dilihat pada proses kematian yang berlangsung pada batin seseorang. Uraian berikut ini akan membicarakan tentang proses kematian yang berhubungan erat dengan proses berpikir.

Proses kematian hanya berbeda sedikit dengan proses berpikir dalam keadaan biasa atau normal. Proses batin dan dalam hal ini yang dibicarakan adalah proses pikiran pada kematian adalah sebagai berikut :
Bhavanga Atita
Bhavanga Calana
Bhavanga Upaccheda
Manodvaravajjana – kesadaran mengarah pada pintu inderiya pikiran
Maranasanna Javana Citta – Impuls javana mendekati kematian
Tadalambana
Cuti Citta – kesadaran kematian
Patisandhi Vinnana – kesadaran kelahiran kembali yang terjadi pada kehidupan berikut.

1. Bhavanga Atita
Keadaan kesadaran ini tak berbeda dengan pada kesadaran proses berpikir biasa
2. Bhavanga Calana

3. Bhavanga Upaccheda
Ketentuan kedua bhavanga ini seperti diatas, tapi karena disini membicarakan proses kematian jadi yang ditentukan adalah proses pikiran orang yang akan segera meninggal. Pada tahap ini orang yang akan meninggal belum dapat mengenal rangsangan yang terjadi. Rangsangan yang dibicarakan sekarang adalah salah satu dari tiga objek pikiran atau tanda kematian.

4. Manodvaravajjana
Adalah kesadaran mengarah ke pintu inderiya pikiran. Pada waktu membicarakan proses berpikir normal dibicarakan tentang Pancadvaravajjana, yang terjadi jika rangsangan dapat dikenal atau diketahui oleh salah satu dari lima inderiya melalui salah satu pintu inderiya inderiya itu yaitu melihat, mendengar, membau, merasa, atau menyentuh. Tetapi dalam kasus tentang proses berpikir pada kematian rangsangan yang muncul bukan dari luar melainkan rangsangan dalam yang merupakan pikiran atau ingatan yang hanya dapat dikenal melalui pikiran.

5. Marana Javana Citta
Adalah impuls javana mendekati kematian yang merupakan tahap psikologis yang penting. Dalam membicarakan tentang proses berpikir normal ada 7 impuls javana tetapi pada orang yang akan meninggal hanya ada 5 impuls javana. Salah satu dari tiga objek pikiran atau tanda kematian muncul pada tahap javana ini. Pada saat salah satu objek ini muncul, getaran bhavanga terhenti. Kesadaran berproses melalui manodvaravajjana and tiba pada javana. Pada saat ini kesadaran pikiran atau pikiran dapat mengetahui dengan jelas rangsangan yang ada.
Tiga objek pikiran atau tanda kematian itu adalah :
Kamma
Ingatan pada suatu perbuatan yang baik atau buruk, hebat atau penting yang pernah dilakukan seseorang sebelum meninggal muncul padanya walaupun kematian itu terjadi secara tiba tiba. Bila ia telah melakukan salah satu dari karma berat buruk ( akusala garuka kamma ) atau telah melakukan karma berat baik ( Kusala garuka kamma ) misalnya mencapai jhana jhana maka ia akan mengingat atau mengalami kamma tersebut sebelum saat kematian. Karena karma berat ini sangat kuat sehingga karma karma lain tertekan dan karma berat itu akan jelas dalam ingatannya. Bila ia tak pernah melakukan garuka kamma, yang menjadi objek ingatannya adalah perbuatan yang ia lakukan menjelang kematiannnya ( asanna kamma ) yang disebut “ karma menjelang saat kematian “. Jika asanna kamma tidak dilakukan maka suatu perbuatan yang sering atau biasa dilakukan ( Acinna kamma atau Bahula kamma ) akan muncul dalam ingatannya seperti memberikan dana karena ia dermawan, memberi khotbah karena ia dharmaduta atau mencuri karena ia maling dan seterusnya. Jika garuka kamma, assana kamma dan accinna kamma tidak ada maka perbuatannya tertentu yan tak berarti dan hanya sekali dilakukan apakah itu perbuatan baik atau buruk yang dikenal sebagai katatta kamma yang akan teringat olehnya. Jika ingatannya itu tentang karma baik ia akan terlahir kembali di alam yang menyenangkan. Tapi bila ingatannya itu tentang karma buruk maka ia akan terlahir kembali dalam keadaan yang lebih buruk daripada keadaan sekarang atau terlahir kembali di alam menyedihkan.
Kamma Nimitta
Pada orang yang dalam proses akan meninggal, kadang kadang suatu ingatan muncul dengan sendiri yang bukan merupakan ingatan tentang suatu perbuatan baik atau buruk tetapi suatu simbol dari perbuatannya. Kamma adalah perbuatan sedangkan nimitta adalah bayangan. Demikianlah bagi seorang tukang jagal mungkin ia melihat pisau, pemabuk melihat botol, orang saleh malihat altar. Hal ini dilihat dengan mata batin dan bukan mata fisik.
Gati Nimitta
Objek pikiran dari orang yang akan meninggal dunia dapat pula berupa simbol dari atau harapan akan tempat dimana ia akan terlahir kembali. Misalnya munculnya bayangan api maka orang itu akan terlahir kembali di alam neraka sedangkan orang yang melihat bunga yang indah akan terlahir di alam surga.
6. Tadalambana
Setelah tahap kesadaran impuls dari maranasanna javana citta muncul tahap kesadaran tadalambana

7. Cuti Citta – Kesadaran kematian
Kesadaran ini adalah kesadaran terakhir yang ada pada kehidupan sekarang. Cuti adalah lenyap atau mati. Pada tahap ini proses kematian berakhir, keadaan cuti citta sama dengan bhavanga citta. Kesadaran ini merupakan kesadaran bhavanga yang terakhir dan kesadaran ini mengambil bhavanga citta pertama dari kelahiran berikut yaitu Patisandhivinnana. Cuti citta secara psikologis tidak terlalu penting karena cuti citta hanya merupakan kesadaran kematian. Akhir dari proses pikiran bukan cuti citta tetapi Maranasanna javana citta, pada saat cuti citta muncul maka kematian tiba.

8. Patisandhi Vinnana
Pada saat cuti citta muncul dan berakhir dengan kematian bukan berarti proses kesadaran terhenti karena kematian tetapi proses kesadaran masih bergetar terus dengan munculnya Patisandhi Vinanna atau Patisandhi citta pada kelahiran berikut pada kehidupan baru. Cuti citta dan Patisandhi citta adalah nama khusus yang diberikan pada bhavanga citta. Pemberian nama teknis ini digunakan untuk mempermudah kita mempelajari dan mengerti proses kematian dan proses kelahiran kembali. Karena dua citta tersebut adalah sama yaitu kesadaran bhavanga yang berproses dan sebab proses tersebut berlangsung dalam seri urutan sama serta berkesinambungan maka objek dari kedua kesadaran ( cuti citta dan patisandhi citta ) adalah sama.

 

Posted in Pikiran | Leave a Comment »

Kelahiran Kembali (1): Proses Berpikir

Posted by bhalanetra pada November 13, 2009

Ajaran kelahiran kembali merupakan salah satu aspek dari Buddhadarma dan bertalian sangat erat dengan hukum karma. Konsep kelahiran kembali dalam agama Buddha merupakan ajaran yang menyatakan tentang ada kehidupan yang berulang ulang kali dari makhluk. Dalam Brahmajala Sutta, Digha Nikaya Sang Buddha menyatakan bahwa manusia telah hidup puluhan ribu kali, hingga tak terhitung banyaknya kehidupan manusia itu pada planet bumi ini. Bahkan manusia yang sama itu pula telah hidup di planet planet bumi yang lain sebelum hidup di planet bumi ini. Jadi kehidupan kita sekarang ini hanya merupakan salah satu mata rantai kehidupan saja dari rantai kehidupan yang panjang. Namun rantai ini dapat diputuskan bila kita melaksanakan ajaran yang secara sistematis telah diuraikan oleh Sang Buddha. Pemutusan rantai kehidupan dengan tercapainya pembebasan ( Nibbana ) sebagai Buddha atau Arahat adalah tanggung jawab dan usaha pribadi kita masing masing.

Menurut Sang Buddha, kelahiran kembali bukan merupakan perpindahan kehidupan karena tidak ada sesuatu dari kehidupan ini yang berpindah kekehidupan berikutnya, tetapi kelahiran kembali adalah kelangsungan arus kehidupan dari kesadaran yang bergetar, karena adanya dorongan dari kekuatan karma. Kelahiran kembali merupakan bagian dari kehidupan dan kehidupan adalah suatu arus kesadaran ( vinnana ) yang berlangsung terus berdasarkan kekuatan karma. Jadi kematian manusia yang kita lihat dalam kehidupan kita sehari hari hanya merupakan perubahan wujud atau bentuk saja, karena sesungguhnya arus kehidupan dari orang yang dikatakan meninggal itu telah terlahir kembali di suatu alam tertentu atau di bumi kita ini sebagai dewa, manusia, setan atau makhluk dalam neraka yang ditentukan oleh karmanya sendiri.

Proses Berpikir

Menurut Abhidhamma, dalam keadaaan biasa pada satu saat berpikir terdapat 17 getaran kesadaran yang berlangsung dengan cepat. Adapun proses berpikir pada keadaan biasa tersebut adalah :
1. Bhavanga Atita ( kesadaran tak aktif lampau )
2. Bhavanga Calana ( bhavanga bergetar )
3. Bhavanga Upaccheda ( bhavanga berhenti bergetar )
4. Pancadvaravajjana ( lima gerbang tempat masuk objek )
5. Panca Vinnana ( lima kesadaran )
6.Sampaticchana ( kesadaran penerima )
7. Santirana ( kesadaran pemeriksa )
8. Votahapana ( kesadaran memutuskan )
9 – 15 Javana ( kesadaran impuls )
16 – 17 Tadalambana ( kesadaran merekam )

Tahap Pertama :
Bhavanga Citta adalah kesadaran yang pasif. Kesadaran pasif ini terdapat pada orang yang sedang tidur nyenyak tanpa mimpi atau ketika seseorang tidak memberikan reaksi apa apa terhadap rangsangan objek dari luar maupun dari dalam. Kesadaran ini dipandang sebagai tahap pertama untuk mempelajari proses berpikir walaupun proses berpikir itu belum mulai.

Tahap Kedua :
Bhavanga Calana adalah kesadaran yang bergetar, karena misalnya ada objek luar atau stimulasi oleh suara cahaya ( bentuk) atau rangsangan pada indriya yang diterima oleh orang yang tidur, pada tahap ini Bhavanga Atita lenyap atau dengan kata lain bhavanga citta mulai aktif. Keadaan ini merupakan tahap kedua. Calana artinya bergerak atau bergetar. Pada tahap ini bhavanga mulai bergetar, getaran ini hanya berlangsung satu saat saja sesudah itu berhenti. Hal ini merupakan akibat dari rangsangan atau objek yang berusaha untuk menyentuh atau menarik perhatian kesadaran pikiran dengan cara menganggu arus bhavanga.

Tahap Ketiga :
Bhavanga Upaccheda adalah tahap pada waktu getaran bhavanga calana terhenti. Upaccheda artinya dipotong atau diputuskan. Sebagai akibatnya, proses pikiran muncul dan mulai mengalir, namun stimulasi atau objek belum dapat dikenal oleh kesadaran.

Tahap Keempat :
Pancadvaravajjana atau kesadaran mengarah pada lima pintu indriya. Pada tahap ini kesadaran dari proses berpikir mulai mengarah untuk mengenal objek dan pada tahap ini pula kesadaran diarahkan untuk mengetahui pada indriya mana dari lima pintu indriya stimulus akan masuk. Pancadvara adalah “ lima pintu “ sedangkan avajjana artinya “ mengarah pada ”. Pada tahap ini orang yang tidur baru tersadar dan perhatiannya diarahkan pada sesuatu, tetapi tidak mengetahui apa – apa tentang hal itu.
Bila perhatiannya bangkit bukan disebabkan oleh rangsangan dari luar melalui salah satu panca inderanya tetapi oleh rangsangan dalam yaitu dari pikiran maka tahap ini disebut Manodvaravajjana atau “kesadaran mengarah pada pintu indriya pikiran “. Dalam hal ini tahap proses berpikir agak berbeda dengan proses yang kita bicarakan sebab tahap ke-5 sampai ke-8 tidak terjadi.

Tahap Kelima :
Uraian pada tahap ini dibicarakan bila proses berpikir didasarkan pada kesadaran yang mendapat rangsangan luar melalui panca inderanya. Pancavinnana, Panca adalah lima sedangkan vinnana adalah kesadaran. Bila rangsangan itu adalah bunyi maka sota – vinnana atau kesadaran mendengar yang bekerja. Bila rangsangan itu adalah sentuhan maka disebut kaya – vinnana atau kesadaran tubuh yang bekerja. Bila itu adalah bayanganatau objek pandangan maka cakkhu – vinnana yang bekerja. Dan seterusnya. Dalam hal ini pada setiap inderiya ada kesadaran inderiya dan kesadaran inderiya ini yang bekerja. Tapi pada tahap ini kesadaran belum mengerti betul tentang rangsangan apa yang muncul melalui pintu inderiya, hal itu hanya dirasakan( sensed ).

Tahap Keenam :
Sampaticchana adalah kesadaran penerima, Tahap ini muncul bila kesan inderiya disebabkan oleh rangsangan yang diterima dengan baik.

Tahap Ketujuh :
Setelah penerima berfungsi, maka muncul fungsi pemeriksa ( santirana ). Pada tahap ini santirana melaksanakan fungsi pemeriksa dengan cara menentukan rangsangan atau objek apa yang menyebabkan kesan inderiya dan apa yang diterima lalu diperiksa.

Tahap Kedelapan :
Votthapana adalah kesadaran memutuskan atau menentukan, pada tahap ini keputusan diambil berdasarkan rangsangan yang disebabkan oleh kesan inderiya, dan apa yang diperiksa lalu diputuskan atau ditentukan.

Tahap Kesembilan sampai Kelima belas :
Javana adalah impuls kesadaran. Pada saat ini kesadaran bergetar selama tujuh kali ( pada saat saat menjelang meninggal dunia, javana hanya bergetar lima kali ). Javana merupakan saat introspeksi yang diikuti oleh perbuatan. Javana berasal dari kata kerja “ javati ” yang artinya “ lari mendorong atau mendesak “. Javana merupakan impuls yang muncul sebagai klimaks dari proses kesadaran dalam proses berpikir. Karena pada tahap ini seseorang dapat menyadari dengan jelas tentang objek atau rangsangan dengan semua ciri cirinya.

Pada tahap ini kamma atau karma mulai berproses sebagai karma baik atau karma buruk. Karena kemauan bebas ada pada javana. Tahap tahap lain dari proses berpikir merupakan gerakan refleks dan harus muncul, sedangkan javana merupakan tahap dimana kesadaran bebas untuk menentukan atau memutuskan. Dalam javana ada hak untuk memilih dan mempunyai kekuatan untuk menentukan masa depan sesuai dengan kehendaknya ( karmanya ). Bial suatu hal salah dimengerti dan perbuatan telah dilaksanakan, maka hasilnya adalah tidak menyenangkan atau karma buruk. Javana adalah kata tknis yang sulit sekali diterjemahkan dengan tepat.

Tahap Keenam belas dan Ketujuh belas :
Tadalambana atau kesadaran mencatat atau merekam kesan. Tadalambana adalah dua saat yang merupakan akibat yang muncul segera setelah javana. Fungsi tadalambana adalah mencatat atau merekam kesan yang dibuat oleh javana. Tadalambana bukan bagian yang paling penting dari proses berpikir karena fungsinya hanya merekam kesan saja. Tadalambana berasal dari kata Tadarammana yang artinya adalah “objek itu”. Dimana Tadalambana karena kesadaran ini mempunyai objek yang sama dengan objek dari javana.

Satu hal yang perlu diperhatikan dalam uraian ini bahwa 17 tahap yang membentuk suatu proses berpikir hanya berlangsung dalam waktu yang sangat pendek sekali. Perkembangan dari proses berpikir adalah berbeda beda bagi setiap objek, hal ini terjadi karena adanya intensitas rangsangan yang berbeda pula. Jika intensitas rangsangan besar sekali maka suatu proses berpikir yang sempurna terjadi, jika intensitas rangsangan besar maka tadalambana ( tahap 16 dan 17 ) tidak terjadi. Jika intensitas rangsangan kecil atau kecil sekali maka proses berlangsung tanpa ada kesadaran yang sempurna.

 

Sumber : Buku Intisari Agama Buddha

Posted in Pikiran | Leave a Comment »

Haruskah Seorang Buddhist Menjadi Vegetarian?

Posted by bhalanetra pada Oktober 19, 2009

Banyak alasan penting mengapa kita harus memilih tidak makan daging, bukan alasan emosional atau sentimental, tetapi merupakan alasan-alasan meyakinkan dan ilmiah. Bila alasan-alasan itu dipikirkan secara mendalam tentulah mulai saat ini juga kita akan beralih kepada makanan vegetaris.
Bangsa Eskimo, hidup sebagain besar dari daging dan lemak dan cepat sekali menjadi tua, panjang usia rata-rata 27,5 tahun. bangsa Krigis, suatu bangsa Nomad di Rusia Timur sebagian besar makanannya terdiri dari daging, cepat menjadi tua dan cepat pula mati, jarang usia mereka melampaui 40 tahun. Sebaliknya penelitian yang di lakukan oleh para antropologi terhadap suku-suku bangsa yang tidak memakan daging, memiliki kesehatan cemerlang, daya tahan, dan umur panjang, dinikmati misalnya oleh suku-suku bangsa Hunza di Pakistan, suku bangsa Otonomi di Mexico dan penduduk asli barat daya Amerika.

Penyebab pemakan daging lebih banyak menderita satu penyakit dan mudah mati:
1 Proses Peracunan
Sesaat sebelum binatang itu di sembelih, biokimia binatang yang ketakutan itu mengalami perubahan. Produksi racun di paksakan keluar mengalir di seluruh tubuh, dengan demikian racun rasa sakit menyebar keseluruh daging.
Sekarang sudah jelas diketahui bahwa emosi mengakibatkan perubahan sangat besar pada susuanan biokimia tubuh, khususnya perubahan hormon pada darah. Badan kita menjadi sakit ketika sangat marah atau takut. Demikian juga binatang itu, akan mengalami perubahan biokimia dalam situasi berbahaya. Kadar hormon di dalam darah binatang khususnya hormon Adrenalin, berubah dengan pesat ketika binatang itu melihat binatang lain menderita dan mati disekitar dirinya dan mereka berontak sekuat tenaga namun sia-sia untuk mendapatkan kebebasan. Sejumlah besar hormon itu tetap melekat pada daging dan meracuni sel-sel tubuh manusia yang memakannya, juga dapat mengganggu pikiran. Menurut Institut di Amerika, daging binatang itu penuh dengan darah beracun dan yang lain terbuang karena produksi.
2. Proses Pembusukan
Segera setelah binatang itu dibunuh, protein di dalam jaringan tubuhnya mengumpul, dan enzym penghancur dibebaskan (disebarkan). Ini tidak seperti tumbuh-tumbuhan yang memiliki dinding sel yang tebal dan system peredaran yang sederhana. Segera terbentuk zat pembusuk yang disebut Ptomaines , karena Ptomaines yang terbebas segera telah mati, daging binatang, ikan dan telur segera mengurai dan membusuk. Sampai pada ketika binatang yang dipotong itu diangkut kedalam ruang pendingin , pada waktu itu mengalami masa pematangan, lebih-lebih daging itu masih harus diangkut dari rumah potong, dibeli oleh pembeli, dibawa pulang, disimpan, disiapkan dan dimakan, disini dapat di bayangkan sampai berapa jauh proses pembusukan itu berlangsung.
Daging lambat sekali perjalanannya di dalam sistim pencernaan manusia, lebih-lebih karena sistem pencernaan manusia itu memang tidak diciptakan untuk mencerna daging. Daging itu memerlukan waktu 5 hari untuk bisa keluar seluruhnya dari dalam badan sementara makanan vegetarian hanya memerlukan waktu 1,5 hari. Selama waktu itu, produk-produk yang menyebabkan penyakit yaitu hal dari pembusukan daging terus menerus bersinggungan dengan alat-alat pencernaan. Kebiasaan memakan daging dengan karakteristik pembusukan-nya yang menghasilkan zat-zat racun itu akan dapat dalam waktu relatif singkat menghancurkan sistem pencernaan kita itu sebelum waktunya.
Daging mentah yang terus menerus mengalami pembusukan dapat mencemari tangan tukang masak dan mencemari semua yang lain yang disentuh olehnya. Para petugas kesehatan masyarakat di Inggris, setelah tersebar keracunan makanan yang bersumber dari rumah penjagalan, memperingatkan kepada ibu rumah tangga agar memperlakukan daging mentah dari sudut pandangan higienisnya, seperti memperlakukan kotoran sapi; sering bakteri beracun tidak dimusnahkan wlau dengan memasaknya, terutama apabila dagingnya itu di masak setengah matang, dipanggang atau sekedar di panasi, semua ini merupakan sumber infeksi yang sangat berbahaya.
3. Pembuangan yang Buruk
Karena sistim pencernaan kita tidak dirancang untuk mencerna daging, maka sebagai akibatnya proses pembuangan pemakan daging ini tidak sempurna. Daging itu merupakan makanan yang hampir tidak berserat, dan makanan sedemikian itu memiliki kekurangan sebagai berikut; ia bergerak lambat sekali di sepanjang sistem pencernaan manusia (empat kali lebih lambat daripada biji-bijian dan sayur-sayuran) sehingga memakan daging itu mengakibatkan sembelit kronis sangat biasa di temukan pada pemakan daging.
Penelitian yang baru-baru ini dilakukan jelas menunjukkan bahwa pola pembuangan yang sempurna hanya dapat diberikan oleh makanan vegetarir, sayur mayur, padi-padian dan buah-buahan, mempertahankan kelembaban dan menggumpal untuk memudahkan pembuangan. Orang-orang vegetarian mendapatkan serat makanan sewajarnya dari makanan yang dimakan sehari-hari dan mendapatkan keuntungan karena memakan makanan tersebut ini mempunyai sifat melindungi dari berbagai penyakit. Menurut penelitian yang dilakukan, serat alamiah itu diperkirakan dapat mencegah penyakit appendicities, diverticulitis, kanker lambung, penyakit jantung, Ginjal, Prostat dan kegemukan.

Guna menjadi vegetarian:
1. Umur panjang (longevity)
banyak penelitian menunjukan bahwa secara umum , seorang vegetarian bisa hidup 5 atau 20 tahun lebih lama dibandingkan dengan orang biasa (non vegetarian). selain itu mereka memilki kualitas kehidupan yang lebih baik.
2. Resiko penyakit jantung koroner rendah
karena rendahnya kandungan lemak dan kolesterol yang rendah pada makanan vegetarian, resiko penyakit jantung koroner menjadi lebih rendah. resiko penyakit kematian pada penyakit jantung bagi vegetarian hanya setengah lebih kecil dibanding dengan non vegetarian.
3. Resiko penyakit kanker berkurang
Menjadi seorang vegetarian menurut jurnal British Medical journal dapat mengurangi 50% – 76% dari semua penyakit kanker. kematian akibat kanker banyak dihubungkan pada kegemukan dan makanan berlemak tinggi serta berserat rendah pada makanan hewani. vitamin A dan C juga dapat melindungi dari kanker kolon. Diet makanan yang berlemak rendah bisa melindungi dari kanker prostat dan kanker payudara.
4. Dapat mencegah penyakit di usus.
Makanan yang berserat tinggi akan memperlancar makanan dalam sistem pencernaan sehingga mengurangi resiko gangguan pencernaan seperti kanker usus, ambeien, diverticulosis, usus buntu, konstipasi, dll.
5. Mengurangi osteoporosis.
Konsumsi protein yang rendah da lebih banyak vitamin D dan kalsium bisa mempertinggi densitas tulang pada vegetarian Sedangkan makanan hewani dapat meningkatkan resiko osteopororsis dan rematik.
6. Menghindari obesitas
Makanan vegetarian yang rendah lemak dan tinggi serat akan mengurangi resiko obesitas. Dengan demikian resiko penyakit lain juga akan menurun.
7. Mencegah dan mengurangi Hipertensi
Makanan vegetarian yang kaya dengan kalsium seperti : pisang, seledri, sayur hijau, tempe terbukti dapat mengurangi tekanan darah. Penelitian membuktikan tekanan darah orang yang ber vegetarian rata rata 110/70mmHg. Bahkan penderita hipertensi mengubah dietnya menjadi vegetarian terbukti dapat menurunkan tekanan darah secara bermakna.
8. Stamina (endurance)
Sumber yang paling baik untuk stamina adalah makanan yang berkabohidrat. Makanan vegetarian kaya dengan karbohidrat sehingga menyediakan energi yang berlimpah untuk aktivitas sehari hari.

3 jenis vegetarian:
1. Pesco/pollo Vegetarian (semi-vegetarian) adalah kelompok yang masih mengkonsumsi produk daging tertentu misalnya daging ayam dan ikan tapi meninggalkan kelompok daging merah.
2. Lacto-ovo Vegetarian adalah kelompok yang masih mengkonsumsi telur dan produk susu dan menghindari segala jenis daging termasuk ikan. Kelompok yang mengkonsumsi susu tapi tidak mengkonsumsi telur disebut lacto-vegetarian, sedangkan yang mengkonsumsi telur tapi tidak mengkonsumsi susu disebut ovo-vegetarian.
3. Vegan adalah kelompok yang meninggalkan sama sekali produk hewani dan turunannya, termasuk gelatin, keju, yogurt dan juga menghindari madu, royal-jeli dan produk turunan serangga. Sebagian penganut vegan menghindari penggunaan produk hewani seperti kulit hewan ataupun kosmetik yang mengandung produk hewani.

http://unhicommunity.blogspot.com/2009/09/alasan-kenapa-menjadi-vegetarian.html

Tapi apa seorang buddhist harus menjadi vegetarian?
Untuk menjawab pertanyaan itu, sutta-sutta tertua (karena khuddaka nikaya bukanlah ucapan Buddha) dan Vinaya Theravada akan menjadi sumber referensi kita.

Majjhima Nikaya 55
Tabib Raja, Jivaka Komarabhacca, datang mengunjungi Sang Buddha. Setelah memberi penghormatan, dia berkata: “Yang Mulia, saya telah mendengar hal ini: ‘Mereka menyembelih makhluk hidup untuk Samana Gotama (yaitu Sang Buddha); Samana Gotama dengan sadar memakan daging yang dipersiapkan kepadanya dari binatang yang dibunuh untuk dirinya’…”; dan bertanya apakah hal ini memang benar.
Sang Buddha menyangkal hal ini, menambahkan “Jivaka, saya nyatakan bahwa dalam tiga hal daging tidak diijinkankan untuk dimakan: apabila dilihat, didengar atau dicurigai (bahwa makhluk hidup tersebut telah secara khusus disembelih untuk dirinya) … Saya nyatakan bahwa dalam tiga hal daging diijinkan untuk dimakan: ketika tidak dilihat, didengar, atau dicurigai (bahwa makhluk hidup tersebut telah secara khusus disembelih untuk dirinya) ….”

Mahavagga
4 jenis daging tertentu yang dilarang untuk dimakan oleh Sang Buddha adalah:
1. Daging manusia -> karena sudah sepantasnya bahwa manusia tidak memakan daging manusia
2. Daging gajah dan kuda -> karena hewan-hewan ini adalah binatang / kendaraan kerajaan pada kala itu
3. Daging anjing -> karena daging anjing (atau serigala) kotor dan kurang steril
4. Daging ular, singa, harimau, macan kumbang, beruang dan hyena -> karena cenderung akan menimbulkan bebauan (sinyal) yang mengkondisikan datangnya serangan dari binatang pada species yang sama itu.

Sutta Nipata 2.2
Disini Sang Buddha mengingat kembali suatu peristiwa pada kehidupannya yang lampau pada masa Buddha Kassapa. Buddha Kassapa adalah gurunya saat itu.
Pada suatu ketika saat seorang petapa sekte luar bertemu dengan Buddha Kassapa dan mencacinya karena makan daging, yang dikatakannya sebagai noda dibandingkan dengan konsumsi makanan vegetarian.
Buddha Kassapa membalas: “Membunuh … melukai …. mencuri, berbohong, menipu … berzinah; inilah noda. Bukan makan daging.
… Mereka yang kasar, sombong, memfitnah, curang, jahat … kikir … inilah noda. Bukan makan daging.
… Kemarahan, keangkuhan, sifat keras kepala, kebencian, penipuan, keirihatian, pembualan… inilah noda. Bukan makan daging.
… Mereka yang bermoral buruk, …. dengki … congkak … menjadi orang yang paling keji, melakukan perbuatan demikian, inilah noda. Bukan makan daging.”
Jadi, jawaban untuk judul di atas: Tak harus.

Posted in Sosial | 2 Comments »

Hiri dan Otappa (II): Sila

Posted by bhalanetra pada September 8, 2009

Lanjutan tulisan Hiri dan Otappa.

Untuk selanjutnya, kemunculan Dhamma Hiri dan Otappa ribuan tahun sebelum Shakyamunibuddha ini menyebabkan munculnya dhamma sila.

Sebab munculnya sila adalah Hiri dan Otappa, sedang guna melakukan sila adalah:
– Menyebabkan seseorang memiliki harta kekayaan yang melimpah.
– Mendatangkan nama baik.
– Menimbulkan rasa percaya diri dalam lingkungan pergaulan dengan golongan sosial manapun.
– Menyebabkan kelahiran-kembali ke alam-alam surga.
5 Sila buddhist (tingkat dasar) non-bhikku:

1. Tak dengan sengaja membunuh makhluk hidup.
– Jangan memelihara hewan yang untuk memeliharanya kita harus membunuh hewan lain untuk makanannya.
– Jangan mencari kebahagiaan melalui penderitaan hewan, misalnya membunuh nyamuk agar tidur nyenyak/ memerangkap lalat agar makanan bersih. Utamakan sanitasi diri dan lingkungan daripada membunuh. Tak menghalalkan membunuh demi kenyamanan. Sebisa mungkin tak membunuh.

2. Tak mengambil barang yang tak diberikan.
– Tak menaikkan harga jual terlalu tinggi dari kesepakatan pasar.
– Tak mengambil uang atau barang yang diperkirakan masih milik seseorang.
– Tak meminta jatah baik berupa uang atau barang yang bukan haknya untuk dipinta. Misalnya minta THR.

3. Tak melakukan perbuatan sex yang tak benar.
– Berzina, yaitu berhubungan seks dengan pasangan yang bukan haknya:
a. Anak di bawah umur (15 tahun ke bawah).
b. Kekasih orang lain.
c. Orang hukuman.
d. Saudara kandung.
e. Samanera dan bhikku.
Bagi yang melanggar ini, maka ia akan terlahir sebagai orang yang memiliki DNA gay, lesbian, banci.
– Menjadi gay, lesbian, banci.
Berhubung gay, lesbian, banci adalah sisa kamma buruk karena itu tak boleh dimanjakan, melainkan harus disembuhkan dengan berwirid “Bud dha… Bud dha… Bud dha..” untuk meluruskan syaraf otak yang bengkok.

4. Tak menipu.
5. Tak mabuk.
8 sila buddhist (tingkat lanjut) non-bhikku:
1. Tak dengan sengaja membunuh makhluk hidup.
2. Tak mengambil barang yang tidak diberikan.
3. Tak berbuat yang tak suci.
4. Tak menipu.
5. Tak mabuk.
6. Tak makan antara jam 12 siang – 12 malam.
7. Tak menari, menyanyi, bermain musik, dan pergi melihat pertunjukan; memakai, berhias dengan bebungaan, wewangian, dan barang olesan (kosmetik) dengan tujuan untuk memperindah tubuh.
8. Tak menggunakan tempat tidur dan tempat duduk yang tinggi dan besar (mewah).

(Diambil dari kitab Anguttara Nikaya.)

“Ikatan pernikahan memang baik, tapi ada yang lebih baik dari itu yaitu ikatan Dhamma” – Buddha saat diminta berceramah di upacara pernikahan.

Seorang bhikku dilarang mengucapkan “selamat …” atas semua bentuk pandangan salah.

Yang perlu untuk diketahui, sila bukan tujuan akhir buddhism, dan bukanlah lokuttara dhamma, melainkan masih lokiya dhamma. yaitu dhamma sekedar untuk bertahan di alam-alam dunia saja. Dhamma tertinggi adalah Vipassana Bhavana, dan tujuan tertinggi agama buddha adalah Nibbana (bebas dari menjadi).

Posted in Ajaran | Leave a Comment »

Hiri dan Otappa

Posted by bhalanetra pada April 1, 2009

Untuk menunjang pelaksanaan sila pada seseorang, Hiri dan Ottapa akan banyak membantu.

Yang dimaksud dengan Hiri adalah perasaan malu, sikap mental yang merasa malu bila melakukan kesalahan atau kejahatan. Ottapa artinya tak mau berbuat salah atau jahat, sikap mental yang merasa enggan merasakan akibat dari perbuatan salah mapun jahat, baik melalui pikiran, ucapan, atau perbuatan.

Sang Buddha bersabda, “Ada 2 hal yang jelas, Oh Bhikkhu, untuk melindungi dunia. Hiri dan Ottappa (malu dan enggan), jika kedua hal ini tak menjadi pelindung dunia, maka seseorang tak menghargai ibunya, tak menghargai bibinya, tak menghargai kakak iparnya, tak menghargai istri gurunya…..” – (Anguttara Nikaya II.7)

Hiri dan Ottappa disebut juga Dhamma pelindung dunia (Lokapala). Hiri dan Ottappa termasuk dalam 7 Kekayaan Ariya atau 7 kekuatan Dhamma.

7 Kekayaan Ariya:
1. Saddha = memiliki keyakinan
2. Sila = menjaga ucapan dan perbuatan salah
3. Hiri = mental yang malu melakukan kejahatan
4. Ottappa = mental yang tak mau merasakan akibat perbuatan jahat
5. Bahusacca = mendengarkan Dhamma dan memahami kegunaannya
6. Caga = melepaskan, meninggalkan, dan membagi-bagikan barang-barang pada orang-orang yang membutuhkan
7. Panna = mengetahui yang berguna dan yang tidak berguna (bijakasna)

7 kekuatan Dhamma (Bala Tujuh):
1. Saddha-Bala = kekuatan dari keyakinan.
2. Viriya-Bala = kekuatan dari semangat (usaha).
3. Hiri-Bala = kekuatan dari malu jika berbuat salah (jahat).
4. Ottappa-Bala = kekuatan dari menjaga agar tak berbuat salah (jahat).
5. Sati-Bala = kekuatan dari kesadaran.
6. Samadhi-Bala = kekuatan dari konsentrasi.
7. Panna-Bala = kekuatan dari kebijaksanaan.

Contoh memiliki Hiri dan Ottappa dalam pelaksanaan sila:

Memiliki Hiri;
Karena malu disebut orang jahat, kita menghindari pembunuhan.
Karena malu disebut miskin dan hina, kita menghindari pencurian.
Karena malu disebut tak pintar cari cewek, kita menghindari perbuatan zina.
Karena malu disebut tak pintar berkisah, kita menghindari ucapan dusta.
Karena malu disebut kurang kreatif, kita menghindari minuman keras.

Memiliki Ottappa;
Karena tak mau dibunuh, kita menghindari pembunuhan.
Karena tak mau kehilangan barang, kita menghindari mencuri.
Karena tak mau mendapat masalah dalam rumahtangga, kita menghindari perbuatan zina.
Karena tak mau ditipu, kita menghindari kata-kata dusta.
Karena tak mau hilang kesadaran, kita menghindari minuman keras.
Hiri bersumber dari dalam diri sendiri, sedangkan ottappa lebih dipengaruhi hal-hal yang di luar diri kita.
Hiri bersifat otonom, timbul sendiri (attadhipati) , sedangkan Ottappa bersifat heteromus; lebih dipengaruhi oleh lingkunagn dan masyarakat (lokadhipati)

Hiri terbentuk oleh rasa malu, sedangkan Ottappa dibentuk oleh rasa waspada.

Hiri ditandai dengan adanya sifat yang konsisten, sedangkan Ottappa ditandai dengan adanya kemampuan mengenal bahaya dan tak mau merasakan akibat kesalahan.

Sumber subyektif dari Hiri adalah pandangan dan ide-ide yang berhubungan dengan kelahiran, usia, kedudukan, sosial atau kehormatan diri, dan tingkat pendidikan. Maka seseorang yang memiliki Hiri akan berpikir, “hanya orang-orang kampung, anak-anak dan orang-orang tak berpendidikan yang akan berpandangan dan berbuat demikian”, maka oleh karena itu ia akan menghindari pandangan yang sempit dan perbuatan yang salah.

Sumber eksternal dari Ottappa adalah pandangan dan ide-ie bahwa sesuatu yang berkuasa (Tuhan, makhluk-makhluk agung, polisi, orang tua, guru, atasan dan sebagainya) akan mempersalahkannya, maka oleh karenanya ia menghindari perbuatan-perbuatan yang salah.

Dengan Hiri, seseorang bercermin kepada kehormatan dirinya, kelahirannya, gurunya, kedudukannya, sosialnya, perguruannya, atau masyarakat dimana ia berada. Sedangkan dengan Ottappa, seseorang menjaga dirinya sendiri, tak mau dipersalahkan orang-orang, tak mau mendapat balasan Hukum karma, dan tak mau menerima akibatnya pada kehidupan mendatang.

Jika seseorang memiliki Hiri, maka ia sendiri yang paling tepat menjadi guru dan pengawas yang terbaik. Apabila seseorang lebih sensitif terhadap Ottappa, maka ia sebaiknya mengikuti bimbingan dan peraturan dari seseorang ataupun dari suatu ajaran yang baik dan diyakininya.

Posted in Ajaran | Leave a Comment »

Tanda-Tanda Pencerahan

Posted by bhalanetra pada Maret 26, 2009

Bila tidak berupaya kuat untuk melaksanakan perenungan seperti disebutkan di atas, para siswa akan gagal untuk mengamati banyak aktivitas jasmani dan batin pada saat permulaan latihan. Seperti ditunjukkan di dalam bagian Samatha-Kammatthana, terdapat banyak rintanan batin (Nivarana) yang menyebabkan batin mengembara ke arah objek lain. Di dalam hal Samatha-Kammatthana, tidak ada perlakuan khusus untuk merenungkan faktor batin yang mengembara, namun mereka seyogyanya ditekan, dan perenungan dikembalikan kepada objek semula secara berkesinambungan, sementara itu di dalam Vipassana-Kammathana perenungan juga harus dilakukan terhadap faktor batin yang mengembara itu. Setelah perenungan dengan cara ini, maka perenungan seyogyanya dikembalikan kepada objek ‘naik’, ‘turun’ seperti semula. Ini adalah satu dari butir-butir perbedaan antara samatha-bhavana dengan vipassana-bhavana di dalam hal mengatasi rintangan batin (nivarana).

Di dalam kasus samatha-bhavana seseorang harus merenungkan secara berkesinambungan terhadap objek semula dari samatha untuk membuat batin terkonsentrasi dengan kuat hanya kepada objek tersebut. Tidak dibutuhkan untuk mengamati fenomena batin dan fisik yang lain. Oleh karena itu tidak diperlukan untuk merenungkan rintangan batin seperti faktor batin yang mengembara yang muncul sewaktu-waktu. Hanya perlu menyingkirkannya sesegera mungkin saat mereka muncul.

Namun demikian, di dalam vipassana-bhavana, semua fenomena batin dan jasmani yang muncul melalui enam pintu indera harus diamati. Oleh karena itu apabila dan ketika rintangan batin seperti misalnya batin merenungkan sesuatu selain objek perenungan semula atau batin menikmati nafsu atau keserakahan dan sebagainya mereka juga harus direnungkan. Apabila mereka tidak direnungkan, maka kemelekatan dan pandangan keliru bahwa mereka kekal, menyenangkan dan atta (aku) akan muncul; oleh karena itu menghindari mereka tidaklah cukup seperti dalam kasus samatha. Objek vipassana akan lengkap hanya apabila seseorang merenungkan terhadap semua fenomena itu sehingga mengetahui dengan jelas sifat alamiahnya dan tidak melekat terhadapnya.

Apabila faktor batin yang mengembara ini direnungkan secara berkesinambungan dengan cara ini dalam jangka waktu yang cukup lama, maka hampir tidak akan ada lagi faktor batin yang mengembara. Segera setelah faktor batin mengembara ke objek lain, batin segera memperhatikan dan merenungkannya dan kemudian pengembaraan tersebut tidak berlangsung lebih jauh lagi. Di dalam beberapa kasus, ditemukan bahwa perenungan dilaksanakan tanpa interupsi karena faktor batin dicerap segara saat faktor batin itu mulai muncul.

Pada tahapan perenungan ini, ditemukan bahwa batin yang merenungkan dan objeknya selalu datang bersama dan terkonsentrasi. Terkonsentrasinya batin terhadap objeknya ini disebut Vipassana-khanika-samadhi (konsentrasi sementara dari pandangan terang).

Sekarang batin terbebas dari kamacchanda (nafsu indera) dan rintangan batin (nivarana) lainnya dan oleh karena itu sama seperti pada tingkat seperti Upacara-samadhi (konsentrasi berdekatan) yang disebutkan di dalam bagian Samatha-kammatthana. Begitu batin tidak lagi bercampur dengan rintangan batin yang menyebabkan mengembaranya batin, maka hanya ada perenungan murni yang terpusat. Inilah yang disebut Citta-visuddhi (kemurnian batin).

Kemudian fenomena fisik seperti naik, turun, menekuk, meregang, dan seterusnya, yang sedang direnungkan, dicerap pada setiap saat perenungan di dalam setiap bentuk yang terpisah tanpa bercampur dengan batin yang merenungkannya atau dengan fenomena materi lain. Fenomena batin, seperti merenungan berpikir, melihat, mendengar, dan seterusnya, juga dicerap pada setiap saat perenungan di dalam keadaan terpisah tanpa dicampuri oleh fenomena materi lain atau fenomena batin lain. Pada setiap saat bernafas, jasmani dan batin yang mengetahui jasmani dicerap secara jelas dan terpisah sebagai dua hal yang berbeda. Pengetahuan bijaksana atas pembedaan fenomena fisik dan batin sebagai dua proses yang terpisah disebut Nama-rupa-pariccheda-nana (pengetahuan bijaksana yang dapat membedakan dengan jelas fenomena batin dan jasmani).

Dengan terealisasinya perkembangan pengetahuan bijaksana (nana) selama satu periode waktu yang baik di dalam latihan perenungan yang berkesinambungan, maka akan muncul sebuah pengertian jelas bahwa fenomena ‘hanya terdiri dari proses batin dan fisik’. Jasmani tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui, menaikkan, menurunkan, menekuk, memindahkan, dan seterusnya. Namun batin memiliki kemampuan merenungkan, memikirkan, melihat, mendengar, dan sebagainya. Terpisah dari dua faktor ini, tidak terdapat aku atau Atta. Pengertian jelas ini disebut ‘Ditthi-visuddhi’ (Kemurnian Pandangan).

Dengan meneruskan perenungan lebih lanjut, dicerap bahwa fenomena materi/fisik dan batin yang muncul di dalam jasmani merupakan efek atau hasil dari sebab-sebab yang bersesuaian dengannya.

Sebagai ilustrasi : Seorang siswa mencerap kenyataan bahwa dikarenakan batin menginginkan untuk membungkuk atau bergerak atau meregang atau mengubah posisi tubuh, maka muncul aksi atau tindakan membungkuk, meregang, bergerak, atau mengubah posisi tubuh; dikarenakan fluktuasi di dalam temperatur/suhu, maka selalu terdapat perubahan di dalam kondisi fisik apakah menjadi dingin atau panas; dan dikarenakan mengkonsumsi makanan maka akan selalu muncul energi fisik yang baru. Lagi, ia mencerap kenyataan bahwa dikarenakan kehadiran/adanya indera penglihatan dan objek penglihatan, indera pendengaran, objek pendengaran, dan seterusnya, maka muncullah kesadaran melihat, mendengar, dan seterusnya, dan dikarenakan kehendak untuk mengarahkan, maka batin mencapai objeknya. Lagi, ia mencerap kenyataan bahwa dikondisikan kehadiran Avijja (kegelapan/kebodohan batin), yang memandang kehidupan sebagai indah dan menyenangkan dan kehadiran Tanha (keinginan rendah), semua jenis perbuatan dipikirkan dan dilakukan, dan dikarenakan kemelekatan terhadap perbuatan-perbuatan tersebut yang telah dilakukan, maka muncullah, di dalam urutan yang sangat cepat dan berkesinambungan, kesadaran-kesadaran (vinnana) baru. Lagi, ia mencerap kenyataan bahwa kematian bukanlah kematian bukanlah sesuatu hanya padamnya kesadaran terakhir di dalam urutan kelangsungan kesadaran; dan lahir adalah munculnya sebuah kesadaran baru di dalam urutan kelangsungan kesadaran ini, tergantung atas formasi/bentukan materi/jasad yang baru. Pengetahuan bijaksana membedakan sebab musabab yang saling tergantung ini disebut “Paccaya-pariggaha-nana” (Pengetahuan bijaksana yang muncul dari pengertian pengalaman penuh akan sebab-musabab fenomena).

Dengan mengerti kenyataan sebab-musabab yang saling tergantung (paticca-samuppada) ia akan datang pada satu kesimpulan bahwa “hidup di masa lampau adalah sebuah formasi materi dan batin, yang tergantung dari sebab musabab yang terkait dan dengan demikian akan ada proses yang mirip pada kehidupan di masa mendatang”. Pandangan murni seperti ini disebut “Kankha-vitarana visuddhi” (Kemurnian pandangan yang muncul setelah mengatasi keraguan).

Sebelum mengembangkan pengetahuan benar kenyataan bahwa “kehidupan terdiri dari batin dan jasmani yang tergantung atas ‘sebab-musabab yang terkait’ terdapat banyak keraguan skeptis apakah terdapat SAYA di waktu lampau, apakah SAYA berada hanya dalam kehidupan ini atau apakah SAYA akan terus ada di waktu mendatang” dengan memegang pandangan bahwa formasi/perpaduan meteri/jasmani dan batin adalah “ATTA” atau “DIRI”. Sekarang keraguan ini tidak dapat muncul karena mereka telah diatasi.

Dengan melanjutkan perenungan lebih jauh, dicerap bahwa materi/jasmani dan batin muncul dan padam pada setiap saat perenungan. Pengertian bijaksana ini disebut “Anicca-sammassana-Nana” (Pengertian bijaksana akan ketidak-kekalan fenomena alam).

Dengan mencerap kenyataan bahwa fenomena materi/jasmani dan batin secara konstan muncul dan padam, bahwa mereka secara konstan dicengkeram oleh “muncul dan padam” mereka dipandang sebagai bukan menyenangkan juga tidak patut digantungi, namun hanya merupakan dukkha, tidak memuaskan. Pengetahuan bijaksana ini disebut “Dukkha-sammassana-nana” (Pengertian bijaksana terhadap kondisi yang tidak memuaskan).

Dengan mencerap kenyataan bahwa fenomena materi/jasmani dan batin secara alamiah tidak mengikuti perintah keinginannya, namun muncul dan padam sesuai dengan sifat alamiah dan kondisi relatifnya, maka direalisasi bahwa mereka bukan “atta” atau “diri”. Pengertian bijaksana ini disebut “Anatta-sammassana-nana” (Pengertian bijaksana terhadap segala sesuatu yang bukan atta atau bukan diri).

Setelah merefleksikan kenyataan-kenyataan ini selama ia inginkan, siswa itu melanjutkan dengan perenungan tanpa refleksi lebih lanjut. Ia kemudian mencerap dengan sangat jelas permulaan dari setiap objek perenungannya. Ia juga mencerap dengan sangat jelas padamnya setiap objek perenungannya seolah-olah diputus dengan jelas. Pada tahap ini, seringkali muncul pengalaman-pengalaman aneh, yang mengkondisikan terhambatnya latihan vipassana sehingga menjadi kotor (vipassanupakkilesa), seperti :

  1. Cahaya yang gemilang (Obhasa)
  2. Kegiuran batin (Piti)
  3. Sikap batin tenang (Passaddhi)
  4. Keyakinan kuat tak terhingga terhadap Tiratana (Adhimokkho ti saddha)
  5. Semangat yang sangat tinggi atas pelaksanaan perenungan/meditasi (Paggaha)
  6. Kegembiraan yang mencakup ke seluruh tubuh (Sukkha)
  7. Pandangan yang tajam terhadap sifat alamiah anicca, dukkha dan anatta tanpa halangan (Nana)
  8. Kemampuan di dalam melaksanakan perhatian murni tanpa kehilangan objek (Upatthana)
  9. Keseimbangan batin (Upekkha)
  10. Melekat terhadap fenomena dhamma butir 1 – 9 (Nikanti)

Oleh karena itu, siswa tersebut dapat terbuai sehingga ia tidak dapat lagi menjaga mulutnya, umumnya ia menceritakan pengalamannya. Ia sering kali menganggap bahwa ia telah merealisasi pencerahan sempurna. Inilah indikasi awal atau tahap permulaan dari ‘Udayabbaya-nana‘ (pengetahuan bijaksana atas muncul dan padamnya fenomena) yang lemah. Namun demikian sepuluh fenomena ini adalah jalan yang salah (Amagga).

Kemudian siswa itu memutuskan pengalaman melihat bayangan batin dan perasaan-perasaan lainnya bukanlah perealisasian pencerahan sempurna yang sesungguhnya, dan bahwa metode perenungan yang tepat untuk merealisasi pencerahan sempurna adalah hanya dengan mengobservasi secara konstan terhadap semua fenomena yang muncul. Ia tiba pada keputusannya ini sesuai dengan apa yang telah dipelajarinya dari pengalaman atau sesuai dengan petunjuk gurunya.

Keputusan murni ini adalah indikasi “Maggamagga-nana-dassana-visuddhi” (kemurnian pandangan benar terhadap jalan dan bukan jalan).

Setelah tiba pada keputusan ini dan diteruskan dengan melanjutkan perenungannya pengalaman-pengalaman melihat bayangan batin dan perasaan-perasaan lainnya secara bertahap akan berkurang dan pencerapan objek menjadi lebih jelas dan lebih jelas lagi. Muncul dan padamnya fenomena materi pada setiap gerakan di dalam hal satu gerakan membungkuk atau meregangkan tangan atau kaki atau di dalam hal satu langkah, setiap fregmen (bagian) dari satu gerakan akan dengan sangat jelas diamati. Inilah kematangan atau tahap akhir dari “Udayabbaya-Nana”. Perenungan itu mengalir tanpa hambatan seolah terbebas dari “Upakkilesa” (ketidakmurnian).

Setelah pengertian bijaksana (Nana) ini diperoleh cukup kuat, pencerapan terhadap objek-objek dijumpai lebih cepat. Akhir atau padamnya objek lebih jelas dicerap daripada permulaan “Upacara” (pendekatan) dan “Anuloma” (adaptasi). Ini adalah “nana” atau pengertian bijaksana yang tepat bagi 8 vipassana nana yang mendahuluinya dan “Magga-nana” (Pengertian bijaksana atas Jalan) yang mengikutinya.

Pandangan terang mulai dari “Udayabbaya-Nana” yang masak sampai dengan “Anuloma-nana” secara kolektif dikenal sebagai “Patipada-nana-dassana-visuddhi” (Kemurnian dengan pengertian bijaksana dan pandangan terang yang muncul akibat telah mengikuti latihan yang benar).

Setelah Anuloma Nana, muncullah “Gotrabhu-Nana” (Pengertian bijaksana memenangkan kesucian) dimana Nibbana adalah objeknya, dimana duka cita dan ketidakpuasan yang berhubungan dengan fenomena fisik dan batin padam secara total. Ini adalah pengertian bijaksana yang memotong kekerabatan “Puthujjana” (makhluk awam duniawi) dan memasuki kekerabatan “Ariya” (makhluk suci).

Kemudian muncul “Sotapati Magga Nana dan Phala Nana” (Pengetahuan bijaksana dari Jalan Suci pemenang arus dan buahnya) yang merealisasi Nibbana. Magga Nana disebut “Nana-dassana-visuddhi” (Kemurnian pandangan).

Saat kemunculan Magga dan Phala Nana tidak berjeda waktu sedetik pun. Kemurnian segera disusul kemunculan refleksi atas pengalaman khusus “Magga, Phala dan Nibbana”. Ini adalah “Paccavekkhana-nana” (Pengertian bijaksana dari retropeksi/perenungan mendalam).

Seseorang yang telah merealisasi Paccavekkhana-nana sesuai urutan itu disebut sebagai makhluk “Sotapanna” (Pemenang arus).

Khas Anicca, Dukkha, Anatta, dengan kejelasan khusus yaitu dukkha. Ini adalah “Patisankha-nana” (Pengertian bijaksana yang muncul dari perenungan yang lanjut).

Ketika “Patisankha-nana” ini masak, perenungan berlanjut secara otomatis mirip sebuah jam tanpa upaya khusus bagi pencerapan dan pengertian bijaksana. Dilanjutkan dengan perenungan atas objek-objek dengan keseimbangan batin – hanya memperhatikan objek tanpa terlarut di dalam kesenangan maupun ketidaksenangan. Perenungan ini begitu damai dan tanpa upaya khusus saat itu dan dilanjutkan dengan mengetahui objek-objek begitu otomatis dan dapat berlangsung lebih dari satu jam, dua jam atau tiga jam; dan bahkan dapat berakhir dalam jangka waktu yang begitu lama, tanpa lelah atau bosan. Pencerapan yang muncul dalam jangka waktu lama ini merealisasi sifat alamiah objek-objek perenungan secara otomatis dan tanpa terlibat di dalam kesenangan dan ketidaksenangan, disebut “Sankharupekkha-nana” (Pengetahuan bijaksana yang muncul dari keseimbangan batin terhadap sankhara).

Keluar dari perenungan ini yang dilanjutkan secara otomatis dan dengan momentumnya merealisasi objek, muncullah pengertian bijaksana yang khusus sangat cepat dan aktif. Pengertian bijaksana yang muncul langsung menuju sebuah jalan mulia ini yang juga dikenal sebagai “Vuitthana” (elevasi) adalah “Vutthana-gamini-vipassana-nana” (Pengetahuan bijaksana menuju elevasi yang lebih luhur).

Pengertian bijaksana ini muncul merealisasi bahwa fenomena fisik dan batin yang muncul melalui enam pintu indera pada saat itu tidak kekal, tidak memuaskan, dan bukan diri/aku. Pengertian bijaksana terakhir adalah “Anuloma-nana” (Pengertian bijaksana atas adaptasi) yang terdiri dari tiga “javana” (saat-saat dorongan) disebut “Parikamma” (persiapan), seyogyanya melaksanakan latihan meditasi sesuai dengan petunjuk yang diberikan di atas.

Posted in Kesadaran | Leave a Comment »