Arsip Buddhism

Samvara (Pengontrolan Diri)

Posted by bhalanetra pada Maret 23, 2009

 

5 Pengontrolan Diri

Secara harfiah, istilah Samvara berarti menutup atau menyumbat sesuatu aliran. Arti yang dibawakan di sini adalah menutup atau menyumbat aliran pikiran-pikiran tidak baik atau jahat dengan 5 cara:

1. Pengontrolan diri dengan moral (Sila-samvara)
Sila Pertama: Tak membunuh makhluk hidup.
Sila Kedua: Tak mencuri.
Sila Ketiga: Tak berzina.
obyek zina seperti yang terdapat dalam Anggutara Nikaya V, 266 adalah:
1. Anak dibawah umur
2. Pasangan hidup orang lain
3. Orang hukuman
4. Saudara kandung
5. Bhikku.

Sila Keempat:  Tak menipu.
Sila Kelima: Tak minum minuman keras.

2. Pengontrolan diri dengan perhatian (Sati-samvara)
1. “Selanjutnya, seorang shivaite, saat ia berjalan ia tahu sedang berjalan, saat berdiri, ia tahu sedang berdiri, saat duduk ia tahu sedang duduk, saat ia berbaring ia tahu sedang berbaring.”
2. “Selanjutnya, seorang shivaite,
Saat berjalan ke depan atau belakang, tahu yang ia lakukan.
Saat melihat ke depan atau belakang, tahu yang ia lakukan.
Saat menekuk atau mengulur, tahu yang ia lakukan.
Saat membawa perlengkapan bajunya dan peralatannya, tahu yang ia lakukan.
Saat makan, minum, kunyah, kecap, tahu yang ia lakukan.
Saat kencing atau berak, tahu yang ia lakukan.
Saat berjalan, berdiri, duduk, tidur, bangun, atau saat bicara atau diam, tahu yang ia lakukan.
Pokoknya sadar semua gerakan yang ia lakukan.
3. Berdhammanupassanasatipatthana atas point:
– nafsu berpikir hal-hal yang merosotkan batin.
– nafsu melihat yang indah-indah.
– nafsu mendengar suara yang merdu.
– nafsu mencium aroma yang harum.
– nafsu mengecap rasa enak.
– nafsu menyentuh tekstur bagus.
Berdhammanupassanasatipatthana atas point:
– nafsu berpikir hal-hal yang merosotkan batin.
– nafsu melihat yang indah-indah.
– nafsu mendengar suara yang merdu.
– nafsu mencium aroma yang harum.
– nafsu mengecap rasa enak.
– nafsu menyentuh tekstur bagus.
Berdhammanupassanasatipatthana adalah: Sadar saat obyek ada. Saat obyek tak ada. Saat obyek muncul. Saat obyek lenyap. Saat obyek tak akan muncul lagi untuk selamanya. Membuat energy berputar menembus level hingga gerbang tantra terbuka.

3. Pengendalian diri melalui pandangan terang (Nana-samvara)
merenungkan hakekat dari empat kebutuhan-kebutuhan hidup (pakaian, makanan, tempat tinggal, obat-obatan) dan tujuan sesungguhnya dalam menggunakan mereka, tidak terseret oleh keinginan serakah. Menggunakan atau menempatkan pandangan terang yang telah dicapai sewaktu berhubungan dengan orang-orang atau sewaktu menghadapi persoalan adalah arti dari bentuk pengendalian diri ini juga.

4. Pengontrolan diri dengan sabar (khanti-samvara)
Sang Buddha bersabda: Khantî paramam tapo titikkha, Sabar adalah tapa tertinggi.
Sabaran ada 2:
a. Adhivasasana Khanti (sabar fisik). Yang dimaksud sabar fisik adalah suatu sikap tenang dan wajar tidak mudah merengek-rengek atau berteriak-teriak dan marah-marah bila kita sedang lapar, haus, kepanasan, kedinginan dan kecapaian. Misalnya di saat kita sedang kerja bakti di vihâra atau melakukan perjalanan jauh (Dhammavisata), mendengarkan ceramah Dhamma, latihan meditasi dan aktivitas lainnya. Kekuatan kesabaran akan tumbuh dan berkembang dalam diri kita bilamana ada latihan dengan cara setahap demi setahap. Sehingga lambat laun daya tahan fisik akan terbentuk dan memberikan perisai atau pelindung pada diri kita.
b. Titikha khanti (sabar mental). Hal ini, merupakan tahapan yang lebih tinggi dari sabar fisik. Jika seseorang telah memiliki sabar mental, ia tidak akan mudah tergoyah dan akan selalu waspada bila ada fitnahan, caci maki dan hinaan, tidak akan mudah marah dan kesal karena perbedaan paham. Tidak akan mudah tersinggung dan mendendam bila ditunjukkan kesalahannya.

5. Pengontrolan diri dengan energy (Viriya-samvara)
a. Berusaha menghindari kejahatan yang belum ada pada mental.
b. Berusaha mengatasi kejahatan yang sudah ada pada mental.
c. Berusaha mengembangkan 7 faktor pencerahan agar kebaikan muncul pada mental.
d. Berusaha menyempurnakan kebaikan yang sudah terwujud pada mental.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: