Arsip Buddhism

Hiri dan Otappa

Posted by bhalanetra pada April 1, 2009

Untuk menunjang pelaksanaan sila pada seseorang, Hiri dan Ottapa akan banyak membantu.

Yang dimaksud dengan Hiri adalah perasaan malu, sikap mental yang merasa malu bila melakukan kesalahan atau kejahatan. Ottapa artinya tak mau berbuat salah atau jahat, sikap mental yang merasa enggan merasakan akibat dari perbuatan salah mapun jahat, baik melalui pikiran, ucapan, atau perbuatan.

Sang Buddha bersabda, “Ada 2 hal yang jelas, Oh Bhikkhu, untuk melindungi dunia. Hiri dan Ottappa (malu dan enggan), jika kedua hal ini tak menjadi pelindung dunia, maka seseorang tak menghargai ibunya, tak menghargai bibinya, tak menghargai kakak iparnya, tak menghargai istri gurunya…..” – (Anguttara Nikaya II.7)

Hiri dan Ottappa disebut juga Dhamma pelindung dunia (Lokapala). Hiri dan Ottappa termasuk dalam 7 Kekayaan Ariya atau 7 kekuatan Dhamma.

7 Kekayaan Ariya:
1. Saddha = memiliki keyakinan
2. Sila = menjaga ucapan dan perbuatan salah
3. Hiri = mental yang malu melakukan kejahatan
4. Ottappa = mental yang tak mau merasakan akibat perbuatan jahat
5. Bahusacca = mendengarkan Dhamma dan memahami kegunaannya
6. Caga = melepaskan, meninggalkan, dan membagi-bagikan barang-barang pada orang-orang yang membutuhkan
7. Panna = mengetahui yang berguna dan yang tidak berguna (bijakasna)

7 kekuatan Dhamma (Bala Tujuh):
1. Saddha-Bala = kekuatan dari keyakinan.
2. Viriya-Bala = kekuatan dari semangat (usaha).
3. Hiri-Bala = kekuatan dari malu jika berbuat salah (jahat).
4. Ottappa-Bala = kekuatan dari menjaga agar tak berbuat salah (jahat).
5. Sati-Bala = kekuatan dari kesadaran.
6. Samadhi-Bala = kekuatan dari konsentrasi.
7. Panna-Bala = kekuatan dari kebijaksanaan.

Contoh memiliki Hiri dan Ottappa dalam pelaksanaan sila:

Memiliki Hiri;
Karena malu disebut orang jahat, kita menghindari pembunuhan.
Karena malu disebut miskin dan hina, kita menghindari pencurian.
Karena malu disebut tak pintar cari cewek, kita menghindari perbuatan zina.
Karena malu disebut tak pintar berkisah, kita menghindari ucapan dusta.
Karena malu disebut kurang kreatif, kita menghindari minuman keras.

Memiliki Ottappa;
Karena tak mau dibunuh, kita menghindari pembunuhan.
Karena tak mau kehilangan barang, kita menghindari mencuri.
Karena tak mau mendapat masalah dalam rumahtangga, kita menghindari perbuatan zina.
Karena tak mau ditipu, kita menghindari kata-kata dusta.
Karena tak mau hilang kesadaran, kita menghindari minuman keras.
Hiri bersumber dari dalam diri sendiri, sedangkan ottappa lebih dipengaruhi hal-hal yang di luar diri kita.
Hiri bersifat otonom, timbul sendiri (attadhipati) , sedangkan Ottappa bersifat heteromus; lebih dipengaruhi oleh lingkunagn dan masyarakat (lokadhipati)

Hiri terbentuk oleh rasa malu, sedangkan Ottappa dibentuk oleh rasa waspada.

Hiri ditandai dengan adanya sifat yang konsisten, sedangkan Ottappa ditandai dengan adanya kemampuan mengenal bahaya dan tak mau merasakan akibat kesalahan.

Sumber subyektif dari Hiri adalah pandangan dan ide-ide yang berhubungan dengan kelahiran, usia, kedudukan, sosial atau kehormatan diri, dan tingkat pendidikan. Maka seseorang yang memiliki Hiri akan berpikir, “hanya orang-orang kampung, anak-anak dan orang-orang tak berpendidikan yang akan berpandangan dan berbuat demikian”, maka oleh karena itu ia akan menghindari pandangan yang sempit dan perbuatan yang salah.

Sumber eksternal dari Ottappa adalah pandangan dan ide-ie bahwa sesuatu yang berkuasa (Tuhan, makhluk-makhluk agung, polisi, orang tua, guru, atasan dan sebagainya) akan mempersalahkannya, maka oleh karenanya ia menghindari perbuatan-perbuatan yang salah.

Dengan Hiri, seseorang bercermin kepada kehormatan dirinya, kelahirannya, gurunya, kedudukannya, sosialnya, perguruannya, atau masyarakat dimana ia berada. Sedangkan dengan Ottappa, seseorang menjaga dirinya sendiri, tak mau dipersalahkan orang-orang, tak mau mendapat balasan Hukum karma, dan tak mau menerima akibatnya pada kehidupan mendatang.

Jika seseorang memiliki Hiri, maka ia sendiri yang paling tepat menjadi guru dan pengawas yang terbaik. Apabila seseorang lebih sensitif terhadap Ottappa, maka ia sebaiknya mengikuti bimbingan dan peraturan dari seseorang ataupun dari suatu ajaran yang baik dan diyakininya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: