Arsip Buddhism

Hiri dan Otappa (II): Sila

Posted by bhalanetra pada September 8, 2009

Lanjutan tulisan Hiri dan Otappa.

Untuk selanjutnya, kemunculan Dhamma Hiri dan Otappa ribuan tahun sebelum Shakyamunibuddha ini menyebabkan munculnya dhamma sila.

Sebab munculnya sila adalah Hiri dan Otappa, sedang guna melakukan sila adalah:
– Menyebabkan seseorang memiliki harta kekayaan yang melimpah.
– Mendatangkan nama baik.
– Menimbulkan rasa percaya diri dalam lingkungan pergaulan dengan golongan sosial manapun.
– Menyebabkan kelahiran-kembali ke alam-alam surga.
5 Sila buddhist (tingkat dasar) non-bhikku:

1. Tak dengan sengaja membunuh makhluk hidup.
– Jangan memelihara hewan yang untuk memeliharanya kita harus membunuh hewan lain untuk makanannya.
– Jangan mencari kebahagiaan melalui penderitaan hewan, misalnya membunuh nyamuk agar tidur nyenyak/ memerangkap lalat agar makanan bersih. Utamakan sanitasi diri dan lingkungan daripada membunuh. Tak menghalalkan membunuh demi kenyamanan. Sebisa mungkin tak membunuh.

2. Tak mengambil barang yang tak diberikan.
– Tak menaikkan harga jual terlalu tinggi dari kesepakatan pasar.
– Tak mengambil uang atau barang yang diperkirakan masih milik seseorang.
– Tak meminta jatah baik berupa uang atau barang yang bukan haknya untuk dipinta. Misalnya minta THR.

3. Tak melakukan perbuatan sex yang tak benar.
– Berzina, yaitu berhubungan seks dengan pasangan yang bukan haknya:
a. Anak di bawah umur (15 tahun ke bawah).
b. Kekasih orang lain.
c. Orang hukuman.
d. Saudara kandung.
e. Samanera dan bhikku.
Bagi yang melanggar ini, maka ia akan terlahir sebagai orang yang memiliki DNA gay, lesbian, banci.
– Menjadi gay, lesbian, banci.
Berhubung gay, lesbian, banci adalah sisa kamma buruk karena itu tak boleh dimanjakan, melainkan harus disembuhkan dengan berwirid “Bud dha… Bud dha… Bud dha..” untuk meluruskan syaraf otak yang bengkok.

4. Tak menipu.
5. Tak mabuk.
8 sila buddhist (tingkat lanjut) non-bhikku:
1. Tak dengan sengaja membunuh makhluk hidup.
2. Tak mengambil barang yang tidak diberikan.
3. Tak berbuat yang tak suci.
4. Tak menipu.
5. Tak mabuk.
6. Tak makan antara jam 12 siang – 12 malam.
7. Tak menari, menyanyi, bermain musik, dan pergi melihat pertunjukan; memakai, berhias dengan bebungaan, wewangian, dan barang olesan (kosmetik) dengan tujuan untuk memperindah tubuh.
8. Tak menggunakan tempat tidur dan tempat duduk yang tinggi dan besar (mewah).

(Diambil dari kitab Anguttara Nikaya.)

“Ikatan pernikahan memang baik, tapi ada yang lebih baik dari itu yaitu ikatan Dhamma” – Buddha saat diminta berceramah di upacara pernikahan.

Seorang bhikku dilarang mengucapkan “selamat …” atas semua bentuk pandangan salah.

Yang perlu untuk diketahui, sila bukan tujuan akhir buddhism, dan bukanlah lokuttara dhamma, melainkan masih lokiya dhamma. yaitu dhamma sekedar untuk bertahan di alam-alam dunia saja. Dhamma tertinggi adalah Vipassana Bhavana, dan tujuan tertinggi agama buddha adalah Nibbana (bebas dari menjadi).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: