Arsip Buddhism

Kelahiran Kembali (II): Proses Kematian

Posted by bhalanetra pada November 13, 2009

Setelah kita mempelajari tentang proses berpikir, maka kita akan dapat dengan mudah mempelajari tentang cara kerja proses pikiran pada saat kematian. Dengan mempelajari dan mengerti tentang proses pikiran pada saat kematian, maka kita akan dapat memperhatikan apa yang berlangsung setelah kematian karena hanya dengan cara ini kita dapat mengerti tentang kelahiran kembali.

Pengaruh Kelahiran Pada Jasmani

Manusia terdiri dari kombinasi antara jasmani dan batin ( nama rupa ). Hubungan antara jasmani dan batin bagaikan hubungan erat antara bunga dan bau. Jasmani sebagai bunga dan batin sebagai bau, sedangkan kematian hanya merupakan pemisahan anatar dua faktor ini. Bilamana orang berada pada saat saat menjelang kematian, jasmani dan batinnya lemah, mungkin seseorang kuat selalu tetapi pada saat menjelang kematian ia menjadi lemah. Hal ini terjadi karena pada waktu kesadaran bergetar sampai 17 getaran dan pada saat getaran itu akan selesai tak ada fungsi baru dari jasmani yang terjadi. Hal ini bagaikan kipas angin listrik yang arus listriknya diputuskan sehingga tidak ada tenaga lagi. Jika kombinasi jasmani dan batin terpisah, jasmani dan batin tidak lenyap. Jasmani akan mulai berproses menjadi lapuk, jasmani atau materi tak dapat lenyap tetapi akan terurai menjadi zat padat, cair dan gas. Elemen ini tak akan lenyap tetapi bentuk elemen elemen itu saja yang berubah.

Pengaruh Kematian Pada Batin
Apakah yang terjadi pada batin setelah meninggal ? batin tidak berbeda dengan jasmani yang tetap berproses, proses perubahan batin dari satu keadaan ke keadaan yang lain berlangsung terus dengan cepat sehingga bagi orang yang tak mengerti menganggap batin ini adalah tetap keka. Kematian tidak menghentikan proses batin.

Proses pikiran tidak berhenti pada saat kematian sebab pada saat terakhir sebelum saat kematian yang disebut maranasanna javana citta walaupun lemah dan tak dapat membuat buah pikiran baru namun memiliki suatu potensi besar untuk mengetahui atau melihat salah satu dari tiga objek pikiran yang masuk dalam pikiran dari orang yang segera akan meninggal. Objek pikiran yang muncul ini tak dapat ditolak, munculnya salah satu dari tiga objek pikiran ini yang menyebabkan sebuah pikiran baru muncul. Pemunculan salah satu dari tiga objek sebagai tanda kematian ini bukan dihasilkan oleh kekuatan dari luar, tetapi hal ini terjadi berdasarkan pada perbuatan perbuatan ( karma ) orang tersebut selama hidupnya. Karma yang bekerja pada saat seperti ini disebut Janaka kamma. Kematian ini merupakan refleksi dari perbuatannya sendiri.

Proses Kematian

Menurut pandangan Buddhis, kematian terjadi karena salah satu dari empat hal yaitu :
Kammakkhaya atau habisnya kekuatan janaka kamma.
Ayukkhaya atau habisnya masa kehidupan.
Ubhayakkhaya atau habisnya janaka kamma dan masa kehidupan secara bersama sama.
Upacchedaka kamma atau munculnya kamma penghancur atau pemotong yang kuat sehingga walaupun janaka kamma dan masa kehidupan belum selesai, orang tersebut meninggal dengan cepat.

1. Kammakkhaya
Jika potensi dari janaka kamma atau karma yang mengatur tentang kelahiran telah habis, maka aktivitas organis jasmani yang memiliki daya hidup ( javitindriya ) mati walaupun batas usia kehidupan di alam tertentu itu belum habis. Hal ini biasanya terjadi pada makhluk makhluk yang lahir di alam menyedihkan ( apaya ), neraka, binatang, peta dan asura, tetapi hal ini terjadi juga di dalam alam alam lain.
2. Ayukkhaya
Habisnya masa kehidupan makhluk, Hal ini terjadi sesuai dengan batas usia kehidupan makhluk di masing masing alam.

3. Ubhayakkhaya
Bersamaan habisnya kekuatan janaka kamma dan batas usia kehidupan dari makhluk.

4. Upacchedaka kamma
Kematian seseorang terjadi karena ia telah melakukan perbuatan yang buruk sekali sehingga walaupun janaka kamma maupun usia kehidupannya belum selesai, Ia tiba tiba meninggal dunia sebagai akibat perbuatan buruk tersebut. Suatu kekuatan tertentu dapat menghentikan kendaraan yang sedang melaju, demikian pula karma yang kuat dapat melenyapkan potensi dari arus proses berpikir dan mengakibatkan seseorang meninggal.

Kammakkhaya, Ayukkhaya dan Ubhayakkhaya disebut sebagai “ meninggal pada waktunya ” ( kala marana ) sedangkan meninggal karena Upacchedaka kamma disebut “ meninggal bukan pada waktunya ” ( akal marana ). Untuk memperjelas keempat hal diatas tentang kematian, dimisalkan makhluk itu adalah lampu minyak, lampu akan padam karena empat hal yaitu jika minyak habis, sumbu habis, minyak dan sumbu sama sama habis atau karena ada angin kencang.

Uraian diatas tentang kematian secara umum, sedangkan kematian secara khusus dilihat pada proses kematian yang berlangsung pada batin seseorang. Uraian berikut ini akan membicarakan tentang proses kematian yang berhubungan erat dengan proses berpikir.

Proses kematian hanya berbeda sedikit dengan proses berpikir dalam keadaan biasa atau normal. Proses batin dan dalam hal ini yang dibicarakan adalah proses pikiran pada kematian adalah sebagai berikut :
Bhavanga Atita
Bhavanga Calana
Bhavanga Upaccheda
Manodvaravajjana – kesadaran mengarah pada pintu inderiya pikiran
Maranasanna Javana Citta – Impuls javana mendekati kematian
Tadalambana
Cuti Citta – kesadaran kematian
Patisandhi Vinnana – kesadaran kelahiran kembali yang terjadi pada kehidupan berikut.

1. Bhavanga Atita
Keadaan kesadaran ini tak berbeda dengan pada kesadaran proses berpikir biasa
2. Bhavanga Calana

3. Bhavanga Upaccheda
Ketentuan kedua bhavanga ini seperti diatas, tapi karena disini membicarakan proses kematian jadi yang ditentukan adalah proses pikiran orang yang akan segera meninggal. Pada tahap ini orang yang akan meninggal belum dapat mengenal rangsangan yang terjadi. Rangsangan yang dibicarakan sekarang adalah salah satu dari tiga objek pikiran atau tanda kematian.

4. Manodvaravajjana
Adalah kesadaran mengarah ke pintu inderiya pikiran. Pada waktu membicarakan proses berpikir normal dibicarakan tentang Pancadvaravajjana, yang terjadi jika rangsangan dapat dikenal atau diketahui oleh salah satu dari lima inderiya melalui salah satu pintu inderiya inderiya itu yaitu melihat, mendengar, membau, merasa, atau menyentuh. Tetapi dalam kasus tentang proses berpikir pada kematian rangsangan yang muncul bukan dari luar melainkan rangsangan dalam yang merupakan pikiran atau ingatan yang hanya dapat dikenal melalui pikiran.

5. Marana Javana Citta
Adalah impuls javana mendekati kematian yang merupakan tahap psikologis yang penting. Dalam membicarakan tentang proses berpikir normal ada 7 impuls javana tetapi pada orang yang akan meninggal hanya ada 5 impuls javana. Salah satu dari tiga objek pikiran atau tanda kematian muncul pada tahap javana ini. Pada saat salah satu objek ini muncul, getaran bhavanga terhenti. Kesadaran berproses melalui manodvaravajjana and tiba pada javana. Pada saat ini kesadaran pikiran atau pikiran dapat mengetahui dengan jelas rangsangan yang ada.
Tiga objek pikiran atau tanda kematian itu adalah :
Kamma
Ingatan pada suatu perbuatan yang baik atau buruk, hebat atau penting yang pernah dilakukan seseorang sebelum meninggal muncul padanya walaupun kematian itu terjadi secara tiba tiba. Bila ia telah melakukan salah satu dari karma berat buruk ( akusala garuka kamma ) atau telah melakukan karma berat baik ( Kusala garuka kamma ) misalnya mencapai jhana jhana maka ia akan mengingat atau mengalami kamma tersebut sebelum saat kematian. Karena karma berat ini sangat kuat sehingga karma karma lain tertekan dan karma berat itu akan jelas dalam ingatannya. Bila ia tak pernah melakukan garuka kamma, yang menjadi objek ingatannya adalah perbuatan yang ia lakukan menjelang kematiannnya ( asanna kamma ) yang disebut “ karma menjelang saat kematian “. Jika asanna kamma tidak dilakukan maka suatu perbuatan yang sering atau biasa dilakukan ( Acinna kamma atau Bahula kamma ) akan muncul dalam ingatannya seperti memberikan dana karena ia dermawan, memberi khotbah karena ia dharmaduta atau mencuri karena ia maling dan seterusnya. Jika garuka kamma, assana kamma dan accinna kamma tidak ada maka perbuatannya tertentu yan tak berarti dan hanya sekali dilakukan apakah itu perbuatan baik atau buruk yang dikenal sebagai katatta kamma yang akan teringat olehnya. Jika ingatannya itu tentang karma baik ia akan terlahir kembali di alam yang menyenangkan. Tapi bila ingatannya itu tentang karma buruk maka ia akan terlahir kembali dalam keadaan yang lebih buruk daripada keadaan sekarang atau terlahir kembali di alam menyedihkan.
Kamma Nimitta
Pada orang yang dalam proses akan meninggal, kadang kadang suatu ingatan muncul dengan sendiri yang bukan merupakan ingatan tentang suatu perbuatan baik atau buruk tetapi suatu simbol dari perbuatannya. Kamma adalah perbuatan sedangkan nimitta adalah bayangan. Demikianlah bagi seorang tukang jagal mungkin ia melihat pisau, pemabuk melihat botol, orang saleh malihat altar. Hal ini dilihat dengan mata batin dan bukan mata fisik.
Gati Nimitta
Objek pikiran dari orang yang akan meninggal dunia dapat pula berupa simbol dari atau harapan akan tempat dimana ia akan terlahir kembali. Misalnya munculnya bayangan api maka orang itu akan terlahir kembali di alam neraka sedangkan orang yang melihat bunga yang indah akan terlahir di alam surga.
6. Tadalambana
Setelah tahap kesadaran impuls dari maranasanna javana citta muncul tahap kesadaran tadalambana

7. Cuti Citta – Kesadaran kematian
Kesadaran ini adalah kesadaran terakhir yang ada pada kehidupan sekarang. Cuti adalah lenyap atau mati. Pada tahap ini proses kematian berakhir, keadaan cuti citta sama dengan bhavanga citta. Kesadaran ini merupakan kesadaran bhavanga yang terakhir dan kesadaran ini mengambil bhavanga citta pertama dari kelahiran berikut yaitu Patisandhivinnana. Cuti citta secara psikologis tidak terlalu penting karena cuti citta hanya merupakan kesadaran kematian. Akhir dari proses pikiran bukan cuti citta tetapi Maranasanna javana citta, pada saat cuti citta muncul maka kematian tiba.

8. Patisandhi Vinnana
Pada saat cuti citta muncul dan berakhir dengan kematian bukan berarti proses kesadaran terhenti karena kematian tetapi proses kesadaran masih bergetar terus dengan munculnya Patisandhi Vinanna atau Patisandhi citta pada kelahiran berikut pada kehidupan baru. Cuti citta dan Patisandhi citta adalah nama khusus yang diberikan pada bhavanga citta. Pemberian nama teknis ini digunakan untuk mempermudah kita mempelajari dan mengerti proses kematian dan proses kelahiran kembali. Karena dua citta tersebut adalah sama yaitu kesadaran bhavanga yang berproses dan sebab proses tersebut berlangsung dalam seri urutan sama serta berkesinambungan maka objek dari kedua kesadaran ( cuti citta dan patisandhi citta ) adalah sama.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: